Belanja Online atau Offline saat Pandemi Corona? Berikut Tipsnya

Jakarta (Unas) – Sejak virus corona atau covid-19 semakin mewabah di Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan himbauan resmi agar masyarakat melakukan social distancing serta mengurangi aktivitas di luar rumah. Dalam menjalani peraturan ini, masyarakat perlu mengambil langkah ketika ingin memenuhi kebutuhan selama di rumah saja.

Tingginya kasus corona di Indonesia juga membuat masyarakat khawatir ketika hendak belanja offline dengan pergi ke minimarket. Oleh sebab itu, tak heran jika orang mempertanyakan lebih baik belanja online atau offline selama pandemi corona.

Menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nasional, Muhani S.E., M.Si.M., kedua hal tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada barang yang memang bisa dibeli secara online untuk menghindari kontak fisik, juga ada barang yang harus dilihat langsung untuk membelinya yakni belanja offline.

“Oleh sebab itu, belanja secara online selama pandemi ini masyarakat bisa melalui marketplace resmi yang terdaftar dan terpercaya, belanja melalui akun media sosial penjual jika kenal dengan penjualnya, belanja melaui situs-situs resmi retail atau grosir, serta belanja melalui driver online,” jelasnya saat dihubungi Humas Unas melalui pesan Whatsapp, Senin (11/05).

Ia melanjutkan, masyarakat juga perlu melakukan cek syarat dan ketentuan penyedia jasa dan cek deskripsi barang. Selain itu, ketika barang sudah diterima, maka cek terlebih dahulu baru tekan tombol selesai atau penerimaan.

Sementara untuk belanja offline, masyarakat perlu lebih berhati-hati dengan menjaga jarak. “Masyarakat perlu meggunakan masker, membawa handsanitizer, menggunakan sarung tangan ketika menyentuh barang, menghindari took-toko yang terlalu ramai, gunakan swap pada mesin EDC sebelum dipencet, dan gunakan swap pada ATM yang telah digunakan,” tambahnya.

Tak hanya itu, masyarakat juga disarankan menghindari pembayaran secara tunai. Saat tiba di rumah, belanjaan di lap dengan tissue antibakteri atau disiram air serta buang plastik belanjaan langsung ke tempat sampah. Untuk lebih meminimalisir penularan, masyarakat dihimbau menggunakan kendaraan pribadi dan tetap menjaga kebersihan dengan langsung mandi jika sampai rumah.

Namun, dibalik kebutuhan masyarakat tersebut, Muhani menuturkan bahwa sebenarnya daya beli masyarakat cenderung turun. Hal ini merupakan imbas dari penurunan pendapatan sebagian karyawan karena mengalami pemotongan gaji bahkan hingga di PHK. Kondisi ini juga menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat.

“Namun, kebutuhan masyarakat untuk beberapa sector selama pandemic justru meningkat (permintaan tinggi) tetapi supply akan produk tersebut rendah karena adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga harga yang timbul tinggi sedangkan daya beli masyarakat rendah,” jelasnya.

Bergerak dari kondisi tersebut, menurut Muhani solusinya adalah pemerintah perlu menetapkan kebijakan harga price ceiling, menetapkan minimal CSR bagi perusahaan-perusahaan besar yang harus dikeluarkan pada masa pandemi. (*NIS).