Dari  Aiyub Mohsin  yang Meraih Gelar Doktor Ilmu Politik di Usia 72 tahun Sampai Muhammad Najib Sang Doktor yang Berburu Buku sampai ke Turki dan Mesir  

JAKARTA ( UNAS) –  Sekilas tidak ada yang berbeda dari sidang doktoral yang biasa di helat oleh Sekolah Pasca Sarjana yang berlokasi di Jl. RM.Harsono No. 1 Ragunan Jakarta Selatan.  Sesuai jadwal hari ini Jumat, ( 17/11) Sekolah Pasca Sarjana Program Doktor Ilmu Politik kembali mengadakan sidang terbuka atas nama saudara Aiyub Mohsin.

Tepat pukul 14.00 petang sidang promosi dimulai, dengan sigap para penguji yang diketuai oleh Prof.Dr. Ernawati Sinaga,Ms.,Apt  memasuki ruang seminar yang berkapasitas 100 orang.  Suasana sidang berjalan khidmat dan  serius terbukti dengan beberapa pertanyaan yang diajukan oleh para penguji. Berbekal fotocopy disertasi setebal 400 halaman yang diberikan untuk masing – masing penguji.

 Berjudul Prestasi Partai Kebangkitan Bangsa pada Pemilihan Umum Legislatif Tahun 2014 Aiyub Mohsin diberikan kesempatan singkat untuk memaparkan secara garis besar isi dari disertasi yang telah ia buat. Tampil sebagai penanya/ peyanggah pertama Prof. Dr. Syamsuddin Haris, segera mempertanyakan tentang  Prestasi Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB), yang sangat signifikan yang terjadi di tahun 2014. Dengan lugas dan tegas Aiyub dapat menjelaskan beberapa indikator yang bisa dikategorikan sebagai prestasi yang luar biasa dari PKB seperti, melonjaknya perolehan suara yang diraih PKB baik dilevel daerah maupun kota, serta  kemampuan PKB didalam menarik kembali suara – suara warga NU yang selama ini telah terpecah belah menjadi bersatu kembali untuk memenangkan calon dari PKB.  Proses tanya jawab yang berlangsung alot ini dikejutkan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Dr. J. Kristiadi yang didapuk sebagai penanya kedua. Pengamat politik dari Center for Strategic and International Studies ( CSIS) ini memberikan sebuah pertanyaan  sekaligus tantangan bagi  Aiyub,  perihal bisa atau tidaknya isi dari disertasi setebal 400 halaman yang telah ia susun ini menjadi formula untuk memenangkan suara PKB sebesar 20% suara nasional pada Pemilu 2019 nanti.

Sempat terhenyak dengan tantangan itu, Aiyub pun dengan cerdas mengeksekusi pertanyaan itu menjadi jawaban yang lugas dan dapat dimengerti berdasarkan basis data yang ia miliki.

“  Bagi saya sangat mungkin sekali PKB dapat meraih 20% suara nanti sebab berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia ( LSI) yang dirilis tahun 2013 jumlah warga NU  pemilih tetap berjumlah 90 juta atau sebesar 36 % suara. Jika PKB mampu mengakomodir suara NU untuk dapat kembali memilih PKB maka bukan tidak mungkin angka 20% sudah ada dalam genggaman”, tukasnya.

Jam menunjukan pukul 15.00  saat ketua sidang mengumumkan untuk menunda sidang untuk memberkan penilaian secara tertutup atas presentasi dan isi dari disertasi yang telah ia tulis.

Tepat pukul 15.15 WIB para ketua sidang beserta promotor dan para penguji kembali memasuki ruang sidang,  menimbang serta mempelajari maka sidang terbuka dotoral ilmu politik yang dipromotori oleh Prof. Dr. Maswadi Rauf ini pun  memutuskan memberikan nilai sangat memuaskan atas disertasi yang telah disusun oleh saudara Ayub Mohsin, mulai saat ini saudara Aiyub Mohsin resmi menjadi seorang doktor bidang ilmu politik, ujar Maswadi.

“ Ini adalah sesuatu yang sangat membanggakan sekaligus mengaharukan bagi kita.  Sore ini Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Politik UNAS dengan bangga meluluskan seorang mantan duta besar Indonesia untuk Vietnam, seorang dosen serta seorang kakek yang menginjak usia ke 72 mampu dengan gigih dan semangat menyusun dan menulis rangkaian disertasi yang sangat tebal berjumlah 400 halaman. Kita selaku penguji sangat bangga sekali dengan semangat yang telah ditunjukan oleh saudara Aiyub, yang dalam perjalanan penyusunan disertasi ini sempat dua kali masuk Unit Gawat Darurat ( UGD), dikarenakan faktor kelelahan dan kesehatan. Tetapi hal itu tidak mengurangi saudara Ayub untuk terus mengejar impian dan cita – citanya. Semoga dengan  gelar ini  dapat menjadi semangat dan pemicu bagi para mahasiswa  program doktoral yang masih muda untuk lebih giat lagi dalam meraih gelar yang ia inginkan”, tutup Maswadi.

Sementara itu disaat sebelumnya tepatnya Kamis (16/11), Sekolah Pasca Sarjana juga meluluskan seorang doktor di bidang Ilmu Politik atas nama saudara Muhammad Najib. Tak kalah tebal dengan Aiyub Mohsin susunan disertasi setebal 300 halaman pun tertata rapi dihadapan para penguji dan penyanggah yang hadir.

Sidang yang diketuai oleh Prof.Dr Umar Basalim ini  terasa istimewa karena hadir diantara ratusan peserta yang hadir  pada sidang terbuka kali ini adalah Dr. H. Asman Abnur, S.E., M.Si selaku  Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia  ( MENPAN – RB) turut pula hadir  beberapa anggota legislatif serta  perwakilan dari kedutaan besar  negara sahabat.

Mengangkat tema “ Dinamika Demokratisasi :  Perbandingan Kasus Indonesia ( 1998-2016), Turki ( 2002-2016), dan Mesir ( 2011 – 2016)”  Najib membawa kita untuk mencoba merefleksikan kembali bagaimana keadaan dan iklim dinamika politik yang ada di tiga negara tersebut. Demokrasi sendiri diyakini olehnya masih merupakan sebuah sistem politik terbaik sampai dengan saat ini.  Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya negara yang menerapkan sistem demokrasi di negara mereka terutama negara yang berpenduduk mayoritas muslim.

Namun begitu imbuhnya, masih banyak pula negara – negara didunia yang enggan untuk menjadikan demokrasi sebagai sebuah sistem pemerintahan. Mereka beralasan dengan demokrasi dikhawatirkan akan merebut kekuasaan yang selama ini dipegang oleh rezim non – demokratis yang selama ini berkuasa, tak heran Thomas Woodrow Wilson, selaku Presiden Amerika Serikat yang ke-28 sampai – sampai menyebut bahwa Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang paling sulit.

Sidang terbuka yang berlangsung sejak pukul 10.00 s/d 11.00 ini dibuka dengan sesi pemaparan oleh Najib yang dilanjutkan  dengan sesi tanya jawab  oleh para penguji. Prof. Dr. Bachtiar Effendi yang didaulat sebagai penanya pertama langsung memberikan pertanyaan yang cukup sulit. Doktor jebolan Ohio State University, Colombus ini mempertanyakan perihal hubungan islam dan demokrasi yang menurutnya untuk saat ini tengah diragukan lagi keberhasilannya.  

“ Sampai sekarang banyak yang mengatakan bahwa Islam itu sesuai dengan demokrasi, dulu saya memiliki keyakinan  seperti itu sekarang saya mulai ragu, kalau memang Islam itu sesuai kenapa dibanyak  negara Islam tidak ada satupun yang demokratis”, tanya nya lugas.

Tampil dengan meyakinkan Najib  menjawab pertanyaan dengan  singkat dan jelas. Menurutnya untuk melihat adakah korelasi antara Islam dan demokrasi disebuah negara yang pertama kali dilihat adalah bagaimana kita dapat membedakan antara Islam sebagai tata nilai dan umat islam sebagai fenomena sosial. 

Islam sebagai tata nilai tandasnya, adalah ajaran yang sangat kental dengan demokrasi hal ini mengacu kepada Alquran yang didalam ayatnya secara spesifik dan jelas membahas tentang  manfaat dan tujuan dari bermusyawarah. Hal ini pula yang diajarkan oleh Rasul SAW beserta para sahabatnya. Sementara itu islam sebagai fenomena sosial inilah yang menyebabkan banyak para penguasa yang menjadikan agama untuk legitimasi politik praktis demi merebut kekuasaan belaka. Hal inilah yang membuat  mereka mengabaikan nilai – nilai Islam dalam berdemokrasi, imbuh Najib.  

Suasana sidang pun kian memanas  dengan pertanyaan dari Prof Dr Maswadi Rauf yang menyinggung perihal keunggulan Indonesia dibandingkan dengan kedua negara yaitu Mesir dan Turki.

“ Dalam disertasi saudara setidaknya ada tiga kekuatan yang mendominasi peta kekuatan politik di tiga negara yaitu Indonesia, Turki dan Mesir.   Kekuatan – kekuatan seperti Nasionalis Religius, Nasionalis Sekuler dan Militer inilah yang kemudian menjadi penentu di ketiga negara tersebut. Nah yang ingin saya tanyakan adalah coba sebutkan keunggulan Indonesia dilihat dari ketiga karakteristik tersebut”, ungkap Maswadi

Indonesia jawab Najib adalah negara yang unik dimana presiden atau pemimpin bangsa kala itu mampu menyatukan  kekuatan – kekuatan Nasionalis Sekuler dan Militer untuk bersatu didalam merebut kemerdekaan. Indonesia yang kala itu dipimpin oleh Presiden Soekarno yang berfaham nasionalis religius mampu merangkul PNI dan Militer untuk bahu – membahu berjuang keseluruh daerah Indonesia untuk merebut kemerdekaan, Hal inilah yang tidak dimiliki oleh negara Mesir dan Turki. Dikedua negara tersebut masing – masing kekuatan saling membunuh satu sama lain serta saling menghancurkan satu sama lain sehingga memunculkan kekuatan / rezim  yang hanya mewakili segelintir golongan, tandasnya.

Acara  ditutup dengan pemberian  gelar doktor oleh ketua sidang Prof Dr Umar Basalim   untuk saudara Muhammad Najib dengan hasil disertasi yang sangat memuaskan ini berakhir dengan  suasana haru dan membanggakan.

“  Puji Syukur tak lupa saya panjatkan kehadirat Tuhan YME. Atas segala limpahan Nikmat dan Karunia- Nya sehingga pada siang ini saya masih diberikan kesehatan untuk menuntut ilmu. Rasa terima kasih yang sebesar- besarnya taklupa saya ucapkan untuk segenap keluarga besar dan sivitas akademika UNAS baik karyawan dosen yang telah membantu saya didalam menyusun disertasi ini.  Selaku anggota legislatif saya sering berpergian keluar negeri baik Turki dan Mesir hanya untuk mendapatkan data yang saya butuhkan. Maka dari itu saya menghimbau kepada rekan – rekan sejawat yang tergabung dalam sekolah pasca sarjana UNAS untuk selalu bersemangat dalam menuntut ilmu dan selalu berkeyakinan bahwa dapat lulus tepat waktu serta dengan nilai akademik yang sangat memuaskan”, terang Najib .