Belajar Lebih dalam Media Cetak, HIMAKOM Terbitkan Majalah Interaksi

JAKARTA (UNAS) – Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Nasional (HIMAKOM UNAS) kembali menerbitkan majalah ‘Interaksi’ yang sudah sampai Edisi ke II. Majalah tersebut merupakan hasil karya mahasiswa Ilmu Komunikasi UNAS yang tergabung ke dalam komunitas Majalah.

Pemimpin Redaksi Majalah tersebut, Monika Br Perangin-angin mengatakan, HIMAKOM tiap semesternya menerbitkan sebuah majalah yang diberi nama ‘Interaksi’. Majalah tersebut berisikan seputar kegiatan prodi Ilmu Komunikasi UNAS dan hasil karya tulisan mahasiswa dan dosen seperti feature, berita, dan yang lainnya. 

“Majalah ini sudah dua kali terbit dan ini sudah edisi kedua. Jadi majalah ini merupakan media bagi mahasiswa untuk bisa mengekspresikan ide mereka melalui tulisan dan gambar. Seperti berita, fotografi, dan desain,” ujarnya saat diwawancarai dalam kegiatan Diskusi Ilmiah dan Bedah Majalah Interaksi, Sabtu (23/2). 

Selain sebagai media belajar bagi mahasiswa, menurut Monika, majalah ini juga bisa melatih mahasiswa untuk menghasilkan bentuk produk Jurnalistik media cetak. “Melalui majalah ini mereka bisa lebih mendalami proses pembuatan media cetak seperti apa,” jelasnya. 

Disinggung mengenai arti dari nama majalah tersebut, perempuan semester 5 itu mengatakan, ‘Interaksi’ berarti majalah tersebut diharapkan bisa menjadi wadah berinteraksi antara mahasiswa, dosen, dan juga alumni Ilmu Komunikasi UNAS untuk berkomunikasi. 

Ia berharap, dengan adanya majalah ini dapat menjadi titik awal untuk membangun pers mahasiswa di UNAS, melatih mahasiswa untuk menulis, dan juga menumbuhkan minat baca serta ketertarikan terhadap media cetak. 

Sementara itu, Head of Content KASKUS, Weshley Hutagalung, yang menjadi pembicara dalam bedah majalah tersebut mengatakan, terdapat tiga poin yang perlu diperhatikan dalam menulis di majalah diantaranya teks, foto ilustrasi, dan tata letak. 

“Teks memiliki kekuatan untuk mengubah cara berpikir manusia, foto ilustrasi sangat dibutuhkan ketika kata-kata tidak cukup menjelaskan, dan tata letak yang indah dapat menjadi daya tarik pertama bagi mata pembaca,” imbuhnya. 

Dalam kesempatan yang sama, alumni Ilmu Komunikasi UNAS angkatan 2006, Seno Soemarno menuturkan, melalui komunitas majalah HIMAKOM tersebut, mahasiswa harus bisa menggali pengetahuan sedalam-dalamnya mengenai media cetak sebelum terjun ke lapangan. 

“Sekarang mahasiswa kebanyakan bacanya berita di media sosial, dan sudah jarang sekali yang membaca media cetak. Nah, tugas kalian sebagai calon-calon sarjana Ilmu Komunikasi harus bisa menciptakan minat baca media cetak lagi dikalangan milenial. Kalau media online itu mengutamakan kecepatan, kalau mau benar-benar belajar nulis dan dapat basic jurnalistik yang kuat, saya sarankan di media cetak,” jelas Seno yang juga News Producer RTV itu.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi, Nursatyo, M.Si mengatakan, ketika mahasiswa bergabung ke dalam komunitas majalah atau media jurnalistik lainnya, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan semata dalam bidang menulis, fotografi, dan desain. Namun juga memiliki tekad yang kuat untuk menyebarkan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat. 

“Mahasiswa harus bisa menyebarkan informasi seluas dan sebenar-benarnya sesuai dengan fakta, serta memberikan kesadaran kepada pembaca akan informasi palsu yang tidak bisa dibedakan benar atau tidaknya. Kalau mahasiswa sudah semangat terhun ke dalam dunia jurnalis, semangat itulah yang saya harapkan bisa menjadi jurnalis yang ideal sehingga bisa memberikan kesadaran bagi masyarakat dan mampu membawa perubahan,” tuturnya.(*NIS)