Sejumlah Polisi AS Ikut Demo Tuntut Kematian George Floyd

Jakarta – Sejumlah polisi Amerika Serikat terlihat turut ikut demo dalam aksi protes solidaritas terhadap kematian George Floyd. Pria tersebut tewas setelah kehabisan napas ketika lehernya ditekan oleh lutut seorang polisi saat dalam penangkapan.

Kematiannya dianggap sebagai puncak amarah public Amerika Serikat terkait kebrutalan dan sikap rasial yang sistematis, terutama oleh aparat terhadap warga kulit hitam dan minoritas. Alih-alih membubarkan pendemo, Kepala Kepolisian Camden Country, Joseph Whysocki malah ikut berbaring dengan para demonstran dengan ikut berlutut sebagai bentuk solidaritas.

“Saya tidak bisa memikirkan hal lain sejujurnya ini adalah komunitas kita, dan bukan hanya kami atau polisi yang menertibkan kota, tetapi kita semua bersama-sama,” katanya dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (2/05).

Camden sendiri merupakan sebuah kota di New Jersey yang memiliki tingkat kejahatan yang tinggi. Aksi polisi bergandengan dengan demonstran merupakan sebuah fenomena baru di kota tersebut. Sementara itu, aksi solidaritas polisi itu pun dinilai sebagai bagian dari upaya aparat menjalin hubungan dan kepercayaan yang lebih baik lagi dengan penduduk kota sejak 2013 ketika kewenangan keamanan publik diambil alih oleh departemen kepolisian negara bagian dari kepolisian kota.

Keikutsertaan Whysocki dan para personelnya dalam demo disambut baik oleh para demonstran. “Saya tahu bahwa semua polisi tidak buruk, jadi begitu saya mendengar bahwa mereka ingin terlibat, saya merespons ‘tentu boleh, mari kita lakukan, kita dapat berdiri bersama dalam aksi solidaritas ini’,” kata Yolanda Deaver, seorang pemilik salon lokal yang menjadi koordinator demonstrasi di kota itu. Menurutnya aksi para polisi itu “benar-benar mengharukan”.

“Mereka (polisi) seakan ingin menyampaikan ‘ini adalah demonstrasi Anda. Anda yang memimpin, kami mendukung di belakang kalian’,” tambahnya. Terlihat juga sejumlah politikus dan tokoh lainnya juga turut serta dalam demo tersebut. Di Flint Township, Michigan, sheriff Genesee County, Chris Swanson, ikut berdemo dan mendukung aksi protes.

Swanson memberi tahu para pemrotes bahwa ia berada di sana untuk memastikan para demonstrasi memiliki suara. Swanson mengatakan kepada pengunjuk rasa bahwa dia dan timnya akan berjalan beriringan bersama para pedemo, daripada berpatroli dan mengawasi mereka.

“Kami ingin bersama kalian semua, sungguh,” katanya. Dalam jumpa pers di hari yang sama, dikutip dari CNN Swanson mengatakan dia dan timnya ingin bertindak proaktif dalam menangani masalah sikap diskriminatif dan rasisme yang dilakukan oknum kepolisian terhadap kaum Afrika-Amerika.

Diketahui, demonstrasi solidaritas terhadap Floyd berlangsung di puluhan kota dan negara bagian di AS. Protes pertama kali mencuat di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd pada Senin (25/5). Aksi solidaritas atas kematian Floyd pun bahkan meluas hingga negara Eropa dan Amerika Latin seperti Brasil hingga Selandia Baru.

Kematian Floyd bukan lah satu-satunya pemantik amarah warga AS yang sesungguhnya. Sebab, insiden Floyd terjadi tak lama setelah dua warga kulit hitam AS lainnya tewas. Ahamud Arbery (25) tewas pada 23 Februari lalu setelah ditembak oleh dua pria kulit putih ketika dirinya tengah lari pagi di lingkungan rumahnya di Brunswick, Georgia. Beberapa pekan setelah kematian Arbery, perempuan kulit hitam bernama Breonna Taylor juga tewas akibat tembakan aparat saat merazia tempat tinggalnya pada Maret lalu. 

 

Selengkapnya : https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200602122851-134-508944/sejumlah-polisi-as-ikut-demo-tuntut-kematian-george-floyd