Waspadai Kecurangan PILPRES 2014, Bawaslu Gandeng Pascasarjana UNAS Ajak Mahasiswa Bergabung di Gerakan Sejuta Relawan Pengawas Pemilu

Selain mencerminkan satu kedaulatan rakyat Indonesia, pemilihan presiden ini juga merupakan amanat konstitusi dan momentum perubahan apakah menjadi lebih baik atau justru lebih buruk.
 
 
Jakarta [UNAS] – Pemilihan umum presiden Republik Indonesia yang akan berlangsung Juli mendatang menggenjot animo masyarakat untuk memilih dan menentukan manakah sosok terbaik untuk memimpin negeri ini lima tahun kedepan. Menghindari kecurangan yang terjadi pada pelaksanaan pemilu nanti, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi DKI Jakarta menggandeng Sekolah Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional mengajak mahasiswa bergabung dengan Gerakan Sejuta Relawan Pengawas Pemilu melalui sosialisasi mensukseskan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014.

Dalam acara yang digelar di selasar utama Universitas Nasional pada Kamis (19/6) tersebut, hadir sebagai pembicara Ketua Program Studi Ilmu Politik Sekolah Pascasarjana Unas, Dr. TB. Massa Djafar, Komisioner Bawaslu Provinsi DKI Jakarta, Mohammad Jufri, S.Sos.,M.Si, dan Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia / SIGMA, Said Salahudin.

“Dalam penyelenggaraan pemilu, terdapat tiga hal yang menjadi potensi pelanggaran pemilu, yaitu kampanye yang dimulai sebelum jadwalnya, kampanye yang dilakukan pada masa tenang, dan kampanye yang dialkukan saat pemungutan suara. Dan mengajak seseorang untuk memilih juga itu bagian dari kampanye,” papar Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia / SIGMA, Said Salahudin ditengah acara.

Sementara itu, menanggapi gerakan sejuta relawan pengawas pemilu dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat, terutama mahasiswa dan siswa tersebut, Salahudin mengemukakan bahwa gerakan ini ditujukan untuk mengambil hati rakyat dan laporan – laporan terkait pelanggaran pemilu pun nantinya hanya mengandalkan kerja dari para relawan ini.

Pada kesempatan yang sama, Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi DKI Jakarta, Mohammad Jufri, S.Sos.,M.Si menegaskan bahwa tugas Bawaslu hanya mengawasi tahapan – tahapan pemilu dan menerima laporan dugaan pelanggaran pemilu. “Kami bertugas mengawasi seluruh tahapan pemilu. Dari seluruh tahapan – tahapan yang ada, itu tidak sebanding dengan jumlah pengawas pemilu yang kami punya. Artinya, personil pengawas saat ini sangat terbatas. Oleh karena itu, kami menganggap bahwa penting untuk mengajak mahasiswa dan siswa bergabung menjadi relawan pengawas dalam pemilu ini agar seluruh tahapan pemilu dan persiapannya pun dapat terawasi dengan baik,” jelas Jufri.

Disisi lain, Kepala Program Studi Ilmu Politik Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional, Dr. TB. Massa Djafar menekankan bahwa Pemilihan Umum ini memiliki makna yang strategis. Massa menjelaskan bahwa selain mencerminkan satu kedaulatan rakyat Indonesia, pemilihan presiden ini juga merupakan amanat konstitusi dan momentum perubahan apakah menjadi lebih baik atau justru lebih buruk.

“Betapa pilpres ini mempunyai urgensi yang sangat strategis bagi tumbuh kembang bangsa Indonesia. karena pada pemilu ini kemudian kita akan mengevaluasi capaian – capaian selama lima tahun, dan melihat apakah negara ini cukup kuat untuk menghadapi persaingan global dengan negara lain. Oleh karena itu, presiden adalah driver untuk membawa bangsa ini bersaing dan berkompetisi,” pungkas Massa. (Herlina, A.Md. )