Tingkatkan Publikasi Penelitian Bidang Sosial, LLDIKTI Wilayah III Gandeng Universitas Gelar Konferensi Nasional

Kegiatan ini terselenggara atas inisiasi dari beberapa universitas yang tergabung dalam konsorsium publikasi ilmiah bidang ilmu sosial yang dibentuk oleh LLDIKTI Wilayah III Jakarta. Adapun anggota konsorsium pertama ini ialah Universitas Nasional sebagai tuan rumah, Universitas Prof.Moestopo (beragama), Universitas Pelita Harapan, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Bakrie, dan Universitas Bina Nusantara.

Jakarta (Unas) – Guna meningkatkan publikasi penelitian bidang ilmu sosial, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III Jakarta lakukan konsorsium publikasi ilmiah dengan menggandeng beberapa universitas. Kegiatan ini diselenggarakan secara virtual dan tatap muka di Universitas Nasional sebagai tuan rumah, pada Rabu (28/07).

Mengusung tema ‘Solidarity, Creativity, and Connectivity’ kegiatan ini diisi dengan presentasi publikasi ilmiah oleh beberapa akademisi dari aspek hubungan internasional, politik, sosiologi, dan komunikasi.

Selain itu, juga pemaparan materi oleh narasumber yakni Prof. Syarif Hidayat, Ph.D. dari Universitas Nasional, Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn dari Universitas Prof. Dr. Moestopo (beragama), Prof. Arry Bainus dari Universitas Padjajaran, serta Dr. Erna Ermawati Chotim dari Universitas Nasional.

Dr. (H.C.) Ir. Airlangga Hartanto, M.B.A., M.M.T.

Hadir sebagai keynote speaker, Menko Perekonomian Republik Indonesia, Dr. (H.C.) Ir. Airlangga Hartanto, M.B.A., M.M.T., mengatakan, dalam masa pandemi Covid-19, riset sosial ekonomi sangat diperlukan guna membantu pemerintah memahami perilaku dan seluruh aktor perekonomian yang terdistraksi akibat pandemi.

“Dengan adanya berbagai riset dan inovasi, pemerintah dapat menjalankan kebijakan secara research based policy,sehingga penerapannya akan lebih baik dan terstruktur. Ilmu sosial juga memiliki peran penting dalam memberikan rekomendasi terkait bagaimana masyarakat merespon dan mengatasi pandemi Covid-19,” tuturnya.

Menurut Airlangga, banyak pihak yang merespon pandemi Covid-19 lebih ditekankan kepada pendekatan medis yang mengakibatkan pembatasan gerak masyarakat. Di sisi lain, Ilmu sosial memiliki peran penting dalam mencegah masyarakat agar tidak panik saat menghadapi situasi krisis yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

“Pemulihan ekonomi di Indonesia juga akan terus di akselerasi dengan memanfaatkan hasil research dan inovasi termasuk dari riset sosial. Peran berbagai stakeholders yakni pemerintah , akademisi, dan pelaku usaha tentunya diperlukan agar mendorong Indonesia keluar dari pandemi dan meraih pemulihan ekonomi dengan cepat,” tuturnya.

Ia berharap, penelitian-penelitian di bidang sosial yang berhasil dipublikasikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat terutama dalam penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi nasional.

Dr. Suryono Efendi, S.E., M.B.A., M.M.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Nasional, Dr. Suryono Efendi, S.E., M.B.A., M.M. juga mengatakan, konferensi publikasi ilmiah ini merupakan bentuk motivasi dan dukungan bagi para akademisi untuk mengkaji dan mendalami isu-isu krusial yang tengah didapi masyarakat.

“Keberadaan akademisi dan peneliti sangat dibutuhkan di masa pandemi Covid-19. Berbagai hasil kajian dan penelitian ilmiah juga dapat dijadikan referensi bagi masyarakat untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul akibat wabah pandemi. Semoga konsorsium ini dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi masyarakat,” katanya dalam sambutan.

Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah III Jakarta, Prof. Dr. Agus Setyo Budi, M.Sc. mengatakan, rangkaian acara konferensi nasional ini merupakan upaya aktif diberbagai perguruan tinggi di lingkungan LLDIKTI Wilayah III Jakarta dalam menciptakan budaya menulis karya ilmiah, meningkatkan publikasi secara kualitas dan kuantitas, dan penyebaran ilmu pengetahuan yang masif dalam berbagai bidang.

Prof. Dr. Agus Setyo Budi, M.Sc.

“Adapun bidang yang dipublikasikan seperti diplomasi vaksin, keamanan dan sistem internasional, demokrasi, pembangunan berkelanjutan dan pemerintahan, keadilan sosial, solidaritas dan ketidakpastian pandemi, kreativitas, disinformasi dan komunikasi risiko,” jelasnya.

Ia turut mengucapkan apresiasi kepada Universitas Nasional yang berkontribusi dalam memfasilitasi peneliti dalam upaya publikasi karya ilmiah, serta membantu meningkatkan kolaborasi dan transfer pengetahuan antar perguruan tinggi.

“Saya berharap, kegiatan ini bisa menjadi wadah untuk memberikan masukan yang konstruktif bagi para pemangku kebijakan dan bermanfaat bagi kemajuan Indonesia yang saat ini masih berjuang dalam pemulihan ekonomi nasional,” harapnya.

Pandemi dari Aspek Sosial

Dalam paparannya, Guru Besar Studi Keamanan Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Padjajaran, Prof. Dr. Arry Bainus, M.A. mengatakan, pandemi Covid-19 memberikan dampak bagi keamanan politik, ekonomi, dan masyarakat.

Prof. Dr. Arry Bainus, M.A

“Selain dampak bagi kesehatan, lambat laun pandemi ini memberikan dampak di berbagai aspek, diantaranya menurunnya kepercayaan masyarakat, kohesi sosial yang lemah, kejahatan, konflik sosial, pengurangan investasi, pengangguran, pengurangan keamanan pangan, ketidakstabilan politik, dan ketidakpercayaan pada pemerintah dan tidak ada legitimasi,” katanya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, perlu ada strategi untuk memulihkan hal tersebut seperti memelihara tata kelola pemerintahan yang baik, memperlambat penyebaran pandemi, mengurangi penyakit dengan pengembangan vaksin dan obat-obatan, mempertahankan infrastuktur sosial-ekonomi, dan berkolaborasi dengan agen-agen lain baik aktor negara dan non negara dalam bertindak bersama untuk mencegah pandemi.

Dr. Erna Ermawati Chotim, M.Si.

Dosen Prodi Sosiologi Universitas Nasional, Dr. Erna Ermawati Chotim, M.Si., juga mengatakan, pandemi Covid-19 telah mengakibatkan dampak signifikan dari dimensi kesehatan, perekonomian, politik, maupun sosial. Ia menuturkan, pandemi juga membentuk solidaritas sosial dan kesadaran kewargaan dalam mitigasi pandemi.

“Solidaritas sosial sendiri merupakan perasaan atau ungkapan dalam bentuk tindakan di sebuah kelompok yang dibentuk oleh kepentingan bersama. Solidaritas sosial ditempatkan dalam konteks perubahan dan cara masyarakat bertahan, serta bagaimana anggotanya melihat diri mereka sebagai bagian yang utuh,” jelasnya.

Erna memaparkan, bentuk solidaritas sosial yang selamaini dilakukan masyarakat seperti aksi homestay untuk tenaga kesehatan, aksi ekonomi untuk perlaku UMKM, aksi pangan untuk masyarakat, aksi masker untuk nakes, aksi peduli nakes, dan aksi pangan untuk masyarakat.

Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn

Sementara itu. Prof. Dr. Rudy Harjanto, M.Sn dari Universitas Prof. Dr. Moestopo (beragama) juga mengatakan, pandemi lebih dari sekadar krisis kesehatan, tetapi juga krisis sosial-ekonomi yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Krisis ini berpotensi menciptakan efek sosial, ekonomi, dan politik yang akan meninggalkan luka yang dalam dan bekerpanjangan.

“Namun, di sisi lain situasi pandemi merupakan momentum memperkuat solidaritas, konektivitas, dan kreativitas. Banyak tindakan yang dapat dilakukan untuk melahirkan ide baru dan imajinasi yang dicirikan oleh kemampuan untuk memahami dunia dengan cara baru, menghubungkan peristiwa yang tampaknya tidak terkait, dan menghasilkan solusi,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, pandemi saat ini merupakan perang dan menyatukan umat manusia dalam tujuan yang sama untuk mengalahkan Covid-19. Pandemi ini juga menjadi musuh bersama bagi semua umat manusia, tidak seperti pergolakan masa lalu yang melibatkan konflik antar manusia di kedua sisi yang bermusuhan, saat ini umat manusia melawan virus.

Dosen Sekolah Pascasarjana Unas, Prof. Syarif Hidayat, Ph.D. juga mengatakan, pendemi mempengaruhi sistem politik beberapa negara yang menyebabkan matinya kegiatan legislatif dan juga proses pemilihan umum. 

Prof. Syarif Hidayat, Ph.D.

Dalam penelitiannya itu, Syarif juga menjelaskan Vote Minus Voice sebagai urgensi penguatan lembaga demokrasi. Ia  beranggapan bahwa reformasi yang berlangsung sejauh ini baru sampai pada menghadirkan lembaga dan prosedur demokrasi. “Sementara, penguatan kapasitas yang semestinya dimiliki lembaga demokrasi itu sendiri relatif kurang mendapat perhatian yang serius,” tuturnya. 

Dalam laporannya, Ketua Pelaksana Kegiatan, Dr. Irma Indrayani, M.Si. mengatakan, sebanyak 85 judul paper yang terdaftar dalam konferensi nasional ini. Penelitian tersebut dipresentasikan di sesi diskusi panel yang tersebar dalam 8 breakout room. 

“Pada sesi diskusi panel, para peneliti dipisah berdasarkan bidang masing-masing yakni hubungan internasional, politik, sosiologi, dan komunikasi yang tersebar dalam 8 ruang breakout room. Sementara peserta yang mengikuti konferensi dapat mengkuti sesi diskusi di ruang mana saja sesuai program studinya,” jelasnya. (NIS)