Tingkatkan Kesadaran Sosial Internasional Lewat NUSIC 2011 HIMAHI

Hal terpenting adalah bukan dampak dari krisis yang melanda Eropa saat ini, melainkan bagaimana Indonesia mampu bertahan dalam menghadapi krisis global ekonomi dan keuangan yang terjadi.
 
Jakarta (UNAS) – Perkembangan isu dunia Internasional sekarang ini sangat pesat. Krisis yang melanda di negara – negara Eropa pun kini menjadi sorotan dan perbincangan utama dalam tiap diskusi Internasional di berbagai benua, entah itu Amerika, Eropa, dan Asia. Tidak ingin tertinggal dengan arus global, Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional ternyata juga turut mendiskusikannya dengan menggelar National University Simulation of International Conference (NUSIC) 2011.

Acara yang tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa FISIP program studi Hubungan Internasional (HI) ini diselenggarakan di Ruang Seminar, Selasar Blok I Lantai 3 dengan mengusung tema besar “Economic Crisis in Europe: Impacts and Opportunities for Developing Countries” serta mengundang pembicara dari tiga komponen berbeda, yaitu Akademisi yang diwakili oleh Dosen program pascasarjana bidang studi sains manajemen Unas, Dr. Yudy Chrisnandi, SE., MM., sementara itu perwakilan pemerintah, yaitu Anggota DPD/MPR RI, Hamdani, S.IP, dan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Sukarelawan Indonesia untuk perubahan global, Dimas Okky Nugroho.

“Kegiatan ini merupakan simulasi sidang pertama yang digelar dengan tujuan untuk meningkatkan kesadran kaum muda untuk melihat perkembangan dunia Internasional disekelilingnya dengan dua agenda yang berbeda, yaitu diskusi meja bundar dan simulasi debat yang diwakilkan dari 10 negara dan nantinya akan dipecah menjadi dua kelompok baik pro atau kontra untuk menanggapi tema yang sudah kita sediakan,” papar Ketua Pelaksana acara, Muhammad Rif’at, Selasa (25/10).

Menanggapi tema yang diusung oleh HIMAHI, Dosen pascasarjana Unas, Yudy Chrisnandi mengungkapkan bahwa yang paling penting adalah bukan dampak dari krisis yang melanda Eropa saat ini, melainkan bagaimana Indonesia mampu bertahan dalam menghadapi krisis global ekonomi dan keuangan yang terjadi. “Saat ini Eropa memang sedang terjadi krisis yang sangat serius dan dampaknya tidak hanya di Eropa, tapi juga keseluruhan karena Eropa sangat dekat dengan perdagangan Internasional,” imbuh Yudy.

Tidak hanya memberikan pengetahuan seputar krisis ekonomi dan keuangan di Eropa, Yudy pun menjelaskan hal – hal yang dapat dilakukan Indonesia guna bertahan dalam mengatasi global krisis yang melanda saat ini, seperti konsolidasi perekonomian nasional yang berbasis pada pemberdayagunaan kekayaan lama sendiri, optimalisasi kerja BUMN, mengurangi kebutuhan impor, melakukan efesiensi terhadap pengeluaran negara yang kurang perlu, penegakan hukum terhadap kasus korupsi, dan melepaskan ketergantungan dengan negara Eropa dan Amerika dengan memulai berorientasi pada Asia.

“Indonesia harus mulai berorientasi pada Asia, karena tahun 2020 akan menjadi abad kejayaan Asia ditandai dengan pertumbuhan ekonomi negara – negara Asia yang spektakuler, seperti China, India, dan negara lainnya,” tambah Yudy.

Dengan mendiskusikan berbagai isu global dengan menganut gaya diplomasi Internasional, tentunya mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilannya untuk menjadi masyarakat unggul yang akan berpengaruh bagi kemajuan bangsa. (Herlina, A.Md)