Talkshow Primata Jawa Demi Kehidupan Manusia dan Alam

Jakarta (UNAS) – Primata adalah jenis satwa yang paling banyak diperdagangkan untuk satwa peliharaan setelah burung dan sebagian besar primata yang diperdagangkan adalah hasil tangkapan dari alam. Selain itu, terdapat perburuan primata untuk diambil dagingnya seperti hal yang terjadi pada Kukang dan Lutung yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit, namun tidak ada bukti ilmiah yang bisa memperkuat kepercayaan tersebut.

Sadar akan pentingnya menjaga pelestarian primata Forum Studi Primata (FSP) Lutung mengadakan Talkshow Primata Jawa bertema “Hutan Jawa, Rumah Mereka, Identitas Kita” di Ruang Seminar Lantai 3 Menara Unas I pada Sabtu (3/3). Kegiatan ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi konservasi primata jawa di tahun 2018 dan diharapkan mampu menampilkan beberapa hal penting dalam konservasi primata jawa dari kacamata peneliti, akademisi dan media massa. Kegiatan ini dihadiri 80 peserta dari berbagai Universitas di Jakarta dan Bandung.

Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan ini Direktur Eksekutif Aspinall I Made Wedana Putra, S. Si, Perwakilan Founder of Kukangku Ismail Agung, S. Si, koordinator lapangan Lutung FSP Eggi Septian Prayogi, perwakilan Sineas Film Sora Surili Ahmad Yusuf Azhari, S. Tr. Tn dan di moderatori oleh Sri Suci Utami Atmoko, Ph.D.

Dalam presentasinya Made menyampaikan bahwa masih banyak tempat perburuan di daerah-daerah di Indonesia ditambah kurang pahamnya masyarakat tentang konservasi. Padahal, Di seluruh nusantara ada lebih dari 59 jenis primata dari kera besar seperti Orang utan sumatera hingga primata terkecil di dunia yaitu Tarsius. Meski demikian menurutnya, masih ada primata yang statusnya belum punah tetapi upaya demi upaya terus dilakukan serta tetap di budayakan dan dilindungi sehingga mencegah adanya perdagangan hewan, dan perburuan liar. Lanjutnya, Sudah saatnya masyarakat berperan untuk melindungi semua jenis primata karena punahnya primata sangat rentan terhadap kehidupan manusia.

“lebih dari 80% primata Indonesia hampir punah dan ditahun 2014 sampai 2016 sudah 25 jenis primata punah  tiga di antaranya ada di Indonesia. Jelas ini bukan sesuatu yang bisa dibanggakan karena ini menunjukkan bahwa kita telah gagal dalam melindungi keanekaragaman hayati kita sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Ismail dalam pemaparannya mengatakan hal yang masih menjadi momok pada bidang konservasi adalah dilakukannya konservasi menyeluruh dalam mencari tempat untuk melepasliarkan primata yang direhabilitasi, karena banyaknya hutan yang sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian dan pemukiman lalu penyelamatan satwa primata dan pengenalan kepada masyarakat agar tidak memelihara primata liar serta melakukan perburuan. Sosialisasi dilakukan melalui akun media sosial dengan menshare  mengenai larangan memelihara dan menghimbau untuk mengembalikan satwa liar ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

“Ada juga yang dipikirkan oleh pemelihara hewan atau komunitas memiliki citra buruk tentang pengembalian satwa liar ke BKSDA akan mati, meski begitu kami memberikan komentar ataupun sosialisasi kepada postingan para pemelihara hewan, ada yang sudah kami sampaikan dan akhirnya dikembalikan satwanya, ada yang marah dan ada yang diam saja karena mungkin postingnya sudah lama.” Ucapnya.

Selain itu, yusuf mengungkapkan Upaya lainnya para konservasi melakukan pengenalan kepada masyarakat luas dengan menggunakan film, karena film menjadi media yang digandrungi. diharapkan film akan menjadi gebrakan untuk para masyarakat bahwa pentingnya menjaga kelestarian alam dan penyelamatan satwa liar.

“Film ini dibuat agar masyarakat tahu bagaimana kondisi primata jawa saat ini khususnya surili dan memperkenalkan bahwa primata adalah bagian dari manusia yang wajib untuk dilindungi,” tutup yusuf. (*DMS)