PSPA UNAS Berikan Pelatihan Kesehatan Wanita Di Pulau Sebatik

JAKARTA – Dewasa ini, masih banyak adanya kesalahpahaman dan  mitos-mitos mengenai menstruasi yang beredar di masyarakat, salah satunya masyarakat yang masih minim pengetahuan dan kurangnya sosialisasi mengenai mentruasi.

Sadar akan hal itu, Pusat Studi Perempuan dan Anak (PSPA) Universitas Nasional (UNAS) bekerjasama dengan Jejaring Indonesia Women for Water, Sanitation anad Hygience (IWWASH) dan Pertamina EP tarakan Field mengadakan Pelatihan Manajemen Kesehatan Menstruasi dan Sanitasi Lingkungan, pada Selasa (23/10).

Pelatihan tersebut berlangsung di Balai Desa Sungai Limau Kecamatan Sebatik Tengah Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara, yang dihadiri oleh 34 peserta dari PKK dan masyarakat setempat. Lokasi tersebut merupakan sebuah pulau bernama Sebatik yang terletak di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Indonesia, yang terbagi dua dengan Sabah dan Malaysia.

“Masyarakat Sebatik yang multietnis ternyata masih menjalankan atau minimal mengetahui adanya mitos-mitos seputar menstruasi. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya pelatihan supaya dapat memahami seperti apa mengelola menstruasi dengan baik dan sehat, termasuk juga sanitasi lingkungannya seperti bagaimana cara membuang pembalut dengan baik dan tidak merusak lingkungan,” ujar Dr. Nonon Saribanon, M.Si.  yang juga anggota dari PSPA. 

Nonon menambahkan, dengan adanya pelatihan ini,  diharapkan para peserta  bisa memahami mengenai manajemen dan sanitasi menstruasi, sehingga tidak ada lagi timbul kesalahpahaman yang dapat menganggu aktifitas mereka selama menstruasi. “Selain mitos manajemen dan sanitasi, kami juga mensosialisasikan mitos dari segi ilmiahnya seperti konsumsi nutrisi selama menstruasi,” imbuhnya.

Melalui kegiatan ini, Nonon berharap para peserta dapat berbagi dan mengajarkan ilmunya kepada anak dan kerabat mereka. Selain itu, Nonon juga mengkampanyekan alternatif pembalut yang dapat digunakan berulang-ulang guna menjaga sanitasi lingkungan, pembalut tersebut didesain khusus sehingga lapisannya memiliki daya serap yang tinggi.

“Setelah adanya pelatihan ini, PSPA UNAS bersama mitra kerjasama pelatihan lainnya akan memonitor semua kegiatan supaya tidak berhenti sampai disini, karena kami juga program disana, nggak hanya manajemen kesehatan menstruasi saja tapi juga program pendidikan dan pemberdayaan. Saya harap apa yang kami sampaikan bisa mereka implementasikan,” jelasnya.

Kegiatan ini diakhiri dengan penyerahan buku panduan oleh UNAS mengenai Manajemen Kesehatan Menstruasi (MKM) sebagai referensi masyarakat, yang akan ditaruh di perpustakaan setempat.(*NIS)