Pilpres 2009 Tanpa Calon Alternatif

Partai-partai politik besar belum mampu melahirkan calon presiden alternatif yang berusia muda. Partai-partai besar mengalami krisis kepemimpinan sehingga hanya bertumpu pada tokoh-tokoh lama seperti Megawati atau SBY.

Partai-partai politik besar belum mampu melahirkan calon presiden alternatif yang berusia muda. Partai-partai besar mengalami krisis kepemimpinan sehingga hanya bertumpu pada tokoh-tokoh lama seperti Megawati atau SBY.

Pendapat itu dikemukakan oleh pengamat politik LIPI, Syamsuddin Haris dalam acara seminar Presiden Kita: Presiden Alternatif Di Mata Anak Muda di aula blok I, 4 Desember. Seminar yang digagas Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik (Himajip) FISIP, Yayasan Perspektif Baru dan Konrad Adenauer Stiftung (LSM Jerman) ini dimoderatori mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid, Wimar Witoelar dan Sekretaris Jenderal PKB, Zannuba Arifah Chafsoh atau akrab disapa Yenny Wahid.

Pemimpin alternatif, lanjut Haris, mungkin muncul dari calon wakil presiden. Peran kampus sangat potensial untuk memunculkan pemimpin-pemimpin alternatif. Dan kampus jangan alergi terhadap partai politik, himbau alumni FISIP Unas angkatan 1978.

Dikatakan Wimar, sosok pemimpin ideal di masa depan adalah orang yang peka, mengerti dan mampu mengolah isu yang terjadi di negaranya. Jangan hanya orang yang memiliki kekuatan pendukungnya, tetapi haruslah orang yang demokratis. Untuk itulah diperlukan seleksi untuk para calon presiden. Kita tak hanya menyukainya secara subyektif, tetapi harus melihat sisi objektif kemampuannya. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Ujar pria berambut kribo yang akrab disapa WW.

Sebelumnya, Himajip dan WW menggelar diskusi terbatas Presiden Kita: Kriteria Orang Biasa dalam Pilpres 2009, bertempat di ruang student centered learning blok I Unas, (5/10). Diskusi yang berlangsung hangat ini membahas sosok-sosok yang berpotensi menjadi calon presiden periode berikutnya.

Menurut WW, Komunikasi yang baik turut menentukan langgeng tidaknya popularitas seorang pemimpin. Contoh, Soekarno dan Soeharto pada awalnya sukses menyampaikan pemikirannya dengan sangat komunikatif. Tapi pada akhirnya komunikasi tidak dibina dengan baik akibat bergesernya keberpihakan rakyat.

Melihat pentingnya peran komunikasi tersebut, para calon mendatang tidak bisa hanya bergantung pada media tradisional sebagai satu-satunya alat kampanye, tapi harus mulai mengoptimalkan media non-tradisional misalnya seperti media blog.(MAB)