Dukung UMKM Tembus Pasar Global, PKSP UNAS Adakan Focus Group Discussion

Jakarta (UNAS) – Pandemi Covid- 19 berdampak ke segala sektor, terutama pada sektor ekonomi. Hal ini dirasakan secara signifikan oleh para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengalami krisis ekonomi. Menurunya daya beli masyarakat akibat pandemic Covid-19 sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha UMKM. Berharap bisa memberikan solusi pembangunan ekonomi,Pusat Kajian Sosial Politik FISIP UNAS bersama dengan Institute Teknologi Bisnis Ahmad Dahlan dan Public Trust Indonesia mengadakan Focus Group Discussion pada Jumat (9/4).

Drs. Hilmi Rahman Ibrahim, M.Si

Pada sambutannya, kepala PKSP FISIP UNAS Drs. Hilmi Rahman Ibrahim, M.Si menjelaskan bahwa UMKM merupakan salah satu sektor yang mampu membangkitkan ekonomi nasional. “ Kebijakan strategis dari pembangunan UMKM merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari dalam tatanan perkembangan ekonomi global, di masa pandemi saat ini UMKM masih bertahan sebagai upaya membangkitkan ekonomi nasional,” jelasnya pada kegiatan Focus Group Discussion.

Dalam diskusi yang mengusung tema “Strategi Produk UMKM Dalam Menembus Pasar Global di Masa Pandemi” ini mengundang narasumber yang kompeten pada bidangnya seperti ; Dr. Irma Indrayani, S.I.P., M.Si Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Nasional, Dr. Ir. Soleh Rusyadi Maryam, M.M – Vice President PT. Sucofindo (Persero) dan Ir. Agus Muharram, M.Sc (Pengamat Kebijakan) di Hotel Ambhara.

Pada materinya Dr. Irma Indrayani, S.I.P., M.Si menjelaskan meskipun banyak UMKM yang gulung tikar tetapi UMKM terbukti lebih mampu bertahan menghadapi dampak pada sektor ekonomi di masa pandemic Covid- 19.

Dr. Irma Indrayani, S.I.P., M.Si

“UMKM terbukti mampu bertahan menghadapi dampak ekonomi pada masa pandemi, walaupun tak sedikit juga UMKM yang gulung tikar, bahkan kini banyak bermunculan UMKM-UMKM baru yang merupakan peralihan model bisnis dari usaha besar ke UMKM, juga beralihnya gelombang orang-orang terkena PHK yang beralih profesi menjadi pebisnis UMKM. Saat ini total ada sekitar 12.234 UMKM eksportir atau sekitar 83% dari jumlah eksportir,” jelasnya

Meskipun demikian, lanjut Irma, saat ini UMKM juga menghadapi sejumlah tantangan dalam upaya mereka menembus pasar global. “ada beberapa tantangan perdagangan nasional yang saat ini dihadapi oleh pelaku UMKM antara lain, terhambatnya perdagangan antar pulau karena banyak yang melakukan kebijakan lockdown (PSBB), perubahan bisnis dari konvensional menjadi digitalisasi, pengendalian inflasi yang berpengaruh terhadap harga produk UMKM dan daya beli masyarakat, kemampuan menembus akses pasar terutama untuk masuk ke platform digital” tambahnya.

Sementara itu, Dr. Ir. Soleh Rusyadi Maryam, M.M – Vice President PT. Sucofindo (Persero) menerangkan pada tahun 2016-2020 data ekspor Kementerian Perdagangan meningkatkan UMKM memilih fokus produksi yang didorong untuk menembus pasar ekspor , ia menyebutkan beberapa hasil produk yang dihasilkan oleh UMKM terbukti memiliki pasar luar.

“Pangan olahan hasil perkebunan olahan hasil hutan furnitur, kerajinan, perhiasan, hasil tenun rakyat, garmen dan aksesoris garmen, serta alas kaki merupakan produk yang terbukti memiliki pasar luar. Dan kontribusinya selama ini terhadap ekspor Indonesia cukup besar,  ada 20 negara yang selama ini jadi tujuan ekspor produk tersebut mulai dari China, AS, Jepang, India, Singapura, Korea Selatan, Belanda, Jerman, Australia, Hongkong, Italia, dan Spanyol,” ungkap Soleh.

Disisi lain, Pengamat Kebijakan Ir Agus Muharram, MSc mengakui, meskipun jumlah UMKM sangat besar namun kontribusinya terhadap ekspor sangat rendah hanya 14%. “Dibandingkan dengan Singapura yang mencapai 41%, Malaysia 18%, Thailand 29%, atau Jepang yang mencapai 25% UMKM di Indonesia hanya 14%. Hal ini bukan saja karena masalah kualitas produk, tetapi karena rendahnya tingkat kemitraan pelaku UMKM padahal kemitraan diperlukan tidak saja untuk menekan biaya produksi tetapi juga untuk memperluas akses ke pasar global,” terangnya. (*TIN)