Dialog Tiga Kampus: Representasi Perempuan Jepang dalam Budaya Populer

Jakarta (Unas) – Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Progam Studi Sastra Jepang Universitas Nasional (Unas) lakukan dialog tiga kampus dengan Universitas Al-Azhar dan President University. Kegiatan webinar ini merupakan bentuk kerja sama ketiga universitas dengan membahas representasi perempuan Jepang dalam budaya populer: manga, anime, dan film biopik.

Dalam sambutannya, Dekan FBS Unas, Drs. Somadi, M.Pd mengatakan, kegiatan ini sebuah upaya untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan diharapkan bisa memberikan wadah kreatifitas bagi ketiga kampus. “Dengan mengambil tema masalah budaya sastra kegiatan ini sangat bermanfaat dan bisa memberikan ruang dialog di masa mendatang terkait kebudayaan Jepang secara lebih luas,” ujarnya melalui webinar, Senin (20/07).

Kegiatan ini diisi oleh tiga pembicara dengan topik yang berbeda yakni Dosen Bahasa dan Kebudayaan Jepang Universitas Al-Azhar Indonesia, Nina Alia Ariefa, S.S., M.Si, Dosen Sastra Jepang Unas, Wawat Rahwati, S.S., M.Hum., dan Dosen Ilmu Komunikasi President University, Eric Gunwan, S.Sn., M.Si.

Melalui presentasi yang berjudul ‘perempuan Jepang dalam teropong sejarah’, Nina mengatakan, dalam sepanjang sejarah, perempuan mempunyai peran yang berbeda pada setiap zamannya. Zaman tersebut dibagi menjadi zaman edo, zaman meiji, zaman taisho, zaman showa sebelum perang dunia II, dan zaman showa pasca perang dunia II.

“Pada zaman edo pendidikan bagi perempuan Jepang berkisar tentang nilai-nilai moral, etika dan keterampilan rumah tangga yang dilakukan di rumah atau terakoya. Pada zaman meiji Jepang mulai mempertimbangkan peran perempuan sebagai bagian dari kekuatan dalam membangun bangsa Jepang,” katanya.

Sementara pada zaman taisho, lanjut Nina, mulai bermunculan perempuan profesional pekerja dan menengah. Di zaman ini juga negara berinvestasi pada pendidikan perempuan untuk memenuhi tujuan nasional. Selain itu, pada zaman showa pasca perang dunia II, kedudukan perempuan diatur kembali dalam konteks wacana baru demokrasi dan hak-hak perempuan dalam keluarga Jepang ditata kembali.

Di sisi lain, dalam presentasi mengenai ‘representasi perempuan indogenius ainu dalam golden ramsy’, Wawat mengatakan, manga dan anime merupakan konstruksi ulang identitas perempuan ainu sebagai bentuk komodifikasi. Ainu sendiri merupakan salah satu suku lokal minoritas di Jepang.

“Manga dan anime hadir bukan sekadar ruang kosong tanpa makna. Namun, dapat menjadi ruang pertarungan makna baik ide maupun ideologi tertentu yang diframing sedemikian rupa untuk kepentingan kelompok tertentu,” katanya. 

Misalnya, seperti penokohan Ashiripa sebagai perempuan Ainu generasi baru yang menonjolkan unsur eksotisme, sang pahlawan, dan petualang bukan sesuatu yang hadir begitu saja. Namun, merupakan hasil kontruksi sosial masyarakat Jepang minoritas yang pada akhirnya bermuara pada kepentingan sosial, politik, dan juga ekonomi dari masyarakat yang memproduksi produk budaya tersebut.

Sementara itu, sebagai pembicara terakhir, Erick menjelaskan mengenai film biopik yakni genre film yang menarasikan, merayakan, hingga menyidik kontribusi penting seorang tokoh bagi dunia. “Seperti halnya hollywood, genre biopik dalam industri perfilman Jepang mengalami peningkatan signifikan, juga tokoh yang diangkat berasal dari beragam kalangan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, biopik mengangkat kisah hidup tokoh yang sudah berkontribusi di masyarakat, menjadi penting untuk membaca representasi perempuan Jepang dalam film-film biopik negeri ini melalui jalinan definisi biopik dan sejarah perubahan sistem kekerabatan di Jepang. (NIS)