Anggoro Santoso : Pandemi Covid-19 Memberikan Dampak Besar pada Dunia Periklanan

Jakarta (Unas) – Pandemi virus corona atau Covid-19 juga memberikan dampak pada bidang periklanan di Indonesia. Dalam waktu yang singkat, banyak aktivitas brand terhenti terutama pada sektor pariwisata dan hiburan sehingga dunia periklanan sangat tertantang untuk membangkitkan sektor ini. Hal tersebut dikatakan oleh dosen Ilmu Komunikasi Universitas Nasional (Unas), Anggoro Santoso, M.I.kom.

“Seperti kita ketahui bahwa pandemic Covid-19 ini diluar perkiraan dan antisipasi. Banyak aktivitas brand terhenti juga strategi kreatif yang terhambat kondisi finansial. Sementara target audiens dan segmentasi pasarpun tidak jelas. Akhirnya sektor pariwisata dan hiburan hanya bisa menunggu sampai wabah ini reda dan aturan pembatasan sosial dibuka kembali, ini menyebabkan dunia periklanan sangat tertantang,” ujarnya saat diwawancarai oleh Humas Unas melalui pesan whatsapp, Rabu (20/05).

Dalam konteks tersebut, lanjutnya, menyebabkan aktivitas periklanan belum bisa berjalan optimal. Contohnya penawaran promosi perhotelan di Bali, yang tarifnya didiskon hingga 70 persen. Namun pada akhirnya tetap sulit berkembang.

“Salah satu hotel franchise dibilangan Kuta memberikan tarif sebesar Rp 3 juta saja untuk menginap selama 30 hari atau satu bulan penuh. Kamar yang diberikan adalah Deluxe Room, hal ini cukup menggoda. Tapi untuk kesana terbentur dengan aturan PSBB,” kata Anggoro yang juga dosen periklanan itu.

Menurutnya, kondisi ini juga menuntut brand untuk berpikir kreatif dan relevan dengan situasi yang ada agar menarik minat konsumen. Brand fashion Anne Avantie misalnya, memanfaatkan situasi ini dengan membuat jaket pelindung diri dengan maskernya sehingga bisa memberikan perlindungan kesehatan di masa pandemi.

Lain halnya dengan brand parfum “Pheromon” yang menggunakan isu virus corona sebagai pendrongnya saat promosi. Brand tersebut mengklaim parfum dengan kandungan alcohol tertentu yang dapat menangkal virus.

Membuka Peluang pada Digital Advertising

Di sisi lain, musibah ini membuka peluang bagi brand untuk mengoptimalkan digital advertising. Bahkan banyak brand juga yang meraup untung di tengah pandemi. Misalnya seperti perusahaan e-commerce, toko alat kesehatan, pembuat aplikasi belajar, rapat online, dan lain sebagainya.

“Aktivitas periklanan di ranah digital sangat ramai. Oleh sebab itu, kita semua baik akademisi maupun praktisi periklanan harus mempersiapkan strategi untuk memasuki era New Normal,” ujarnya.

Namun, di samping banyak brand yang mengalami penurunan penjualan, brand yang masih bertahan mengoptimalkan pada digital marketing meliputi periklanan di media sosial. Menurut Anggoro, strategi yang perlu dilakukan yaitu membuat kampanye brand yang relevan dengan situasi sekarang.

“Salah satu caranya menurut saya bisa memanfaatkan influencer atau youtober sebagai endorser. Berikutnya menggunakan artis di dunia hiburan sebagai endorser. Pilihan ini bisa menjadi efektif dan efisien karena banyak artis yang butuh pemasukan setelah adanya aturan PSBB dan gerakan #dirumahsaja,” jelasnya.

Aktivitas iklan secara online ini beriorientasi pada konsep viral marketing atau advertising. Cara kerjanya mirip seperti iklan dari mulut ke mulut. Namun, harus menggunakan aplikasi di media sosial yang bisa menyebar dan menyebabkan viral.

Dalam menghadapi situasi ini, Anggoro mengatakan bahwa brand khususnya di sektor non pariwisata dan hiburan harus mengkaji ulang strategi brand dan mulai masuk ke ekosistem digital marketing. Tak hanya itu, juga mereset ulang target audiens dan segmentasi pasar agar cocok dengan costumer insight brand tersebut.

“Tidak semua brand bisa masuk dalam ekosistem digital, makanya perlu dilakukan kombinasi channel marketing agar brand bisa tetap hidup,” tutupnya.(#NIS)