Jakarta (Humas UNAS) – Universitas Nasional (UNAS) menyerukan langkah de-eskalasi dan penguatan diplomasi internasional menyusul meningkatnya ketegangan akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dinilai berpotensi memicu Perang Dunia Ketiga. Melalui pandangan Dosen Hubungan Internasional FISIP Dr. Robi Nurhadi, UNAS mendorong pemerintah Indonesia mengambil peran aktif dalam membangun aliansi anti-perang, melindungi WNI, serta menggalang kekuatan negara-negara non-blok guna mencegah konflik meluas menjadi eskalasi global yang lebih destruktif.
“Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran telah membuka celah kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga. Hal itu dikarenakan para pihak yang berperang memiliki pendukung efektif. AS mempunyai basis pangkalan militer di Qatar, Bahrain, Kuwait dan negara lainnya. Lalu Israel sendiri sedang mesra dengan India. Sementara, Iran dikenal dekat dengan Rusia dan China,” kata Robi kepada Humas UNAS melalui pesan singkat, Senin, (2/3/2026) di Jakarta.
Ia mengatakan bahwa potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan pun bisa lebih besar dibanding perang-perang sebelumnya karena ketiga negara memiliki senjata nuklir dan senjata modern yang memungkinkan eskalasi tinggi dan durasi yang lama.
“Kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus gunakan segala potensi diplomasi kita untuk mencegah perang ini eskalatif. Kita harus cegah jangan sampai dimanfaatkan para pihak yang mau memancing di air keruh!,” ujarnya.
Menurut Robi, pemerintah Indonesia harus segera mengamankan seluruh WNI dan aset Indonesia yang ada di negara-negara yang berperang dan yang terlibat perang. Jangan hanya travel warning, melainkan juga asistensi kemanusiaan pada WNI yang terdampak akibat perang.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (P3M) UNAS ini menambahkan bahwa Presiden Indonesia dapat segara melakukan penggalangan dukungan negara-negara melalui konferensi internasional seperti halnya Konferensi Asia Afrika tahun 1955 dulu atau Gerakan Non-Blok (GNB). “Sebaiknya, Presiden Indonesia menginisiasi “GNB Jilid 2″ untuk melokalisir negara-negara agar tidak terlibat perang dan mendorongnya menjadi kekuatan pendamai” tegas Robi.
Ditanya soal rencana Presiden yang mau mendamaikan dengan turun ke Iran, Robi menyarankan agar tidak menggunakan cara tersebut. Robi menilai bahwa lebih realistis untuk Indonesia memimpin upaya melokalisir potensi melebarnya perang, dan menekan para pelaku perang melalui aliansi anti perang yang besar.
“Para pelaku perang kan merasa bahwa mereka itu kuat, dan merasa penting menggunakan kekuatannya. Kita harus tunjukkan bahwa kekuatan aliansi anti perang lebih kuat dari mereka. Lalu gunakan yang lebih kuat itu untuk memaksa mereka menghentikan perang!,” tambah Robi mengakhiri. (*Dimas Wijaksono)
Bagikan :


