Jakarta – Tiga mahasiswa Universitas Nasional (UNAS), Farhan, Ilham, dan Alvin, menciptakan platform digital bernama Freelink yang menawarkan solusi kolaborasi antara Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan freelancer pemula. Platform ini dirancang untuk membantu freelancer pemula membangun portofolio kerja sekaligus menjawab kebutuhan UMKM akan tenaga kerja berkualitas dengan biaya yang terjangkau.
Freelink dikembangkan sebagai aplikasi berbasis web yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah pencarian proyek, tetapi juga sebagai sarana pengembangan kompetensi. Melalui platform ini, freelancer pemula dapat mengikuti pelatihan dan e-learning untuk meningkatkan keterampilan serta memperkuat portofolio.
“Freelink ini kami rancang bukan hanya untuk mempertemukan UMKM dan freelancer, tetapi juga untuk melatih freelancer pemula agar siap terjun ke dunia kerja profesional,” ujar salah satu pencipta Freelink.
Saat ini, Freelink telah beroperasi dan menjalin kerja sama dengan dua mitra UMKM dari berbagai sektor usaha. Beberapa proyek yang telah dikerjakan bergerak di bidang food and beverage (F&B), ritel, dan konstruksi. Dari sisi sumber daya manusia, Freelink didukung oleh 10 freelancer aktif serta enam orang tim admin.
Sistem kerja di Freelink bersifat fleksibel, memungkinkan freelancer menyelesaikan proyek secara individu maupun berkelompok. Platform ini menyediakan fitur pembentukan tim, sehingga proyek dapat dibagi ke beberapa freelancer dengan sistem komisi sesuai kontribusi masing-masing.
Dalam mekanisme pembayaran, UMKM melakukan transaksi melalui admin Freelink menggunakan sistem virtual account. UMKM dikenakan biaya layanan sebesar 2 persen dari nilai proyek sebagai komisi platform. Sementara itu, freelancer menerima honor proyek setelah dipotong 3 persen sebagai biaya penanganan dan operasional.
Melalui inovasi yang digagas oleh Farhan, Ilham, dan Alvin ini, Freelink diharapkan dapat menjadi jembatan kolaborasi antara mahasiswa, freelancer pemula, dan UMKM serta mendorong terbentuknya ekosistem kerja digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (TIN)
Bagikan :


