Jakarta (UNAS) – Zulfa Fajriani, M.Eng., praktisi energi bangunan dari Jepang, menekankan pentingnya penerapan teknologi bangunan hijau (green building) sebagai strategi krusial dalam menekan emisi karbon dan mendorong transisi energi global. Hal ini ia sampaikan dalam International Seminar on Energy Transition Towards Net Zero Emission 2060 yang diselenggarakan di Ruang Seminar Lt. 3, Menara UNAS, Ragunan, Rabu (23/7).
Dalam paparannya, Zulfa menjelaskan bahwa sektor bangunan menyumbang sekitar 39% emisi karbon global, yang berasal dari dua aspek utama yakni, operasi bangunan (penggunaan listrik harian) dan konstruksi serta material (indirect emission dari produksi dan transportasi material bangunan).
“Kita sering lupa, bahwa bukan hanya listrik yang kita pakai sehari-hari, tapi juga bahan bangunan seperti kaca, beton, dan atap yang semuanya punya jejak karbon besar dalam proses produksinya,” jelasnya.
Zulfa mengajak peserta seminar untuk mulai memahami peran arsitektur dan desain pasif dalam penghematan energi. Ia mencontohkan penggunaan ventilasi alami, pencahayaan siang hari, dan orientasi bangunan yang tepat untuk mengurangi kebutuhan akan AC dan penerangan buatan.
Tak hanya itu, Zulfa juga memaparkan teknologi efisiensi energi terbaru, seperti: (1) Lighting Automation yaitu sistem lampu otomatis yang menyala dan mati sesuai keberadaan orang di ruangan. (2) Demand Control Ventilation yaitusistem ventilasi pintar yang menyesuaikan sirkulasi udara sesuai jumlah orang, (3) Thermal Storage yaitu penyimpanan panas dari siang hari untuk digunakan pada malam hari, dan (4) Solar Water Heater dan Pre-Cooling System yaitu pendinginan alami sebelum AC digunakan.
“Kita bisa menciptakan bangunan dengan konsumsi energi yang sangat kecil bahkan bisa ditutup oleh energi yang dihasilkan sendiri, inilah konsep zero net energy building,” paparnya.
Dalam sesi tanya jawab, Zulfa juga menekankan pentingnya pemilihan material insulasi yang tepat berdasarkan nilai U-value, serta mendorong pelaku industri bangunan untuk memahami standar sertifikasi hijau seperti LEED (AS), CASBEE (Jepang), dan Greenship (Indonesia).
Sebagai penutup, Zulfa mengajak mahasiswa, arsitek, insinyur, dan pemangku kebijakan untuk mengambil peran masing-masing dalam menciptakan bangunan masa depan yang lebih efisien dan rendah emisi.
“Apa pun peran Anda ke depan arsitek, policy maker, engineer, pemilik Gedung semua punya kontribusi dalam mewujudkan masa depan energi yang berkelanjutan,” tuturnya. (*DMS)
Bagikan :


