Raih Doktor Ilmu Politik, Any Berupaya Sejahterakan Pulau-pulau Terluar

JAKARTA (UNAS) – Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional (UNAS) kembali melahirkan doktor dalam bidang Ilmu Politik, Any Hindriatny, di Menara UNAS Ragunan, Jakarta, Kamis (21/03). Any merupakan doktor ke 13 yang lulus dengan predikat sangat memuaskan.  Perempuan kelahiran Pekalongan, 26 September 1958 itu mengangkat disertasi yang berjudul “Pulau-pulau Terluar Dan Peningkatan Kesejahteraan Serta Penjagaan Kedaulatan (Implementasi Kebijakan Pengelolaan Pulau Miangas, Marore, dan Marampit Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2009-2017).

Dalam penjelasannya, Any berupaya mensejahterahkan pulau-pulau tersebut karena kondisi masyarakatnya masih tertinggal, terisolasi, dan terbelakang. Selain itu, wilayah perairannya terancam sengketa perbatasan, illegal fishing, penyelundupan, dan sebagai akses terorisme. “Dengan adanya berbagai ancaman tersebut, pertahanan keamanan dan kesejahteraan menjadi hal yang penting untuk menjaga kedaulatan wilayah dan menjamin kehidupan sosial ekonomi penduduk setempat. Padahal, pulau-pulau tersebut memiliki nilai yang strategis bagi kedaulatan negara, dan memiliki sumber perikanan dan kelautan yang melimpah,” jelasnya. 

 

Sdr Dr. Any Hindrianty dalam prosesi sidang doktoral sedang menunggu hasil sidang dari promotor dan penguji, di Jakarta (21/3).

Ia melanjutkan, dalam mengelola pulau-pulau tersebut terdapat berbagai halangan dan tantangan, baik ancaman maupun peluang sehingga dibutuhkan keterpaduan antar sektor dalam pengelolaan pulau Miangas, Marore, dan Marampit.“Dalam aspek sosial misalnya, penduduk pulau terluar masih hidup dalam keterbelakangan, keterisolasian, dan ketertinggalan. Kondisi kehidupan mereka memang sangat jauh berbeda dengan penduduk di pulau-pulau besar. Penduduk di pulau terluar ini menggantungkan hidupnya pada sumber daya laut sebagai nelayan,” tambahnya. 

Sementara itu, lanjut Any, dalam aspek politik, pengelolaan pulau Miangas, Marore, dan Marampit yang berbatasan dengan Filipina lebih diutamakan untuk menjaga kedaulatan negara. Oleh karena itu, pemerintah berupaya agar program kesejahteraan dapat tercapai sehingga penduduk setempat tetap setia pada NKRI agar tidak berpaling ke Filipina. “Dalam konteks ini kehadiran negara menjadi sangat menentukan,” ujar lulusan S2 Prodi Ilmu Politik Sekolah Pascasarjana UNAS itu.  Ia berharap, pemerintah dapat terus memerhatikan pulau-pulau terluar itu karena dapat membuka peluang ekonomi dan potensi sumber daya alam yang tinggi, sehingga dapat dijadikan modal dasar pelaksanaan pembangunan Indonesia di masa yang akan datang. 

“Selain itu, pulau-pulau terluar juga bisa memberikan jasa lingkungan yang besar, karena keindahan alam yang dimilikinya dapat menggerakan industri pariwisata bahari,” ungkapnya. Diwawancarai usai sidang, Any mengatakan bahwa usai lulus dari program doktor, ia akan mengabdikan ilmunya terutama untuk pulau-pulau terluar agar selalu terjaga demi NKRI. Selain itu, juga untuk memotivasi generasi muda khususnya kaum perempuan untuk tetap maju dan menimba ilmu. 

Sdr Any Hindrianty sedang menerima ijazah dari promotor, Prof. Dr. Nazarudin Syamsudin

Anak pertama Any, dr Astra Parahita, Sp. A., mengatakan, Ibunya itu telah melewati berbagai macam perjuangan dan waktu yang panjang untuk menempuh doktoralnya. “Saya berharap semoga Ilmu Ibu dapat bermanfaat bagi Indonesia dan bisa menempuh pencapaian-pencapaian berikutnya,” harap Astra.  Sidang tersebut dihadiri oleh Ketua Sidang, Prof. Dr. Eko Sugiyanto, M.Si., promotor, Prof. Dr. Nazarudin Syamsudin, Co-promotor, Dr. TB Massa Djafar, dan penguji sidang diantaranya Prof. Dr. Rusafi Kantaprawira. SH, Prof. Dr. Maswadi Rauf. MA, dan Dr. Mohammad Noer, MA.(#NIS)

 

 

 

 

(kiri-kanan) Dr. TB. Massa Djafar, Dr. Mohammad Noer, MA, Prof. Dr. Maswadi Rauf, MA, Prof. Dr. Eko Sugiyanto, M.Si, Sdr Dr. Any Hindrianty, dr Astra Parahita, Sp. A, Prof. Dr. Nazarudin Syamsudin, Prof. Dr. Rusafi Kantaprawira, S.H.
sedang melakukan foto bersama diakhir acara sidang doktoral