Jakarta (UNAS) – Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Nasional (UNAS) kembali menyelenggarakan Cross Culture Festival (CCF) ke-3 dengan mengusung tema “Unity in Motion: A Festival of Arts and Cultures”. Kegiatan ini berlangsung di Aula UNAS Blok A Lantai 4, Kamis (22/1).
Wakil Dekan FBS UNAS, Dra. Fadhilah, M.Hum., menyampaikan bahwa Cross Culture Festival merupakan agenda rutin Program Studi Sastra Inggris yang telah memasuki tahun ketiga pelaksanaannya dan selalu mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa maupun pelajar. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya keragaman budaya sebagai fondasi perdamaian.
Ia menjelaskan bahwa konflik kerap berakar dari kurangnya pemahaman lintas budaya. Oleh karena itu, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menanamkan kesadaran terhadap keberagaman sejak dini. Di era global saat ini, bahasa tidak lagi menjadi sekat, melainkan sarana untuk memahami budaya lain secara lebih luas.
Fadhilah menambahkan, promosi dan pengenalan budaya yang berkelanjutan menjadi prasyarat penting dalam membangun perdamaian. Untuk itu, FBS UNAS berkomitmen mendukung penyelenggaraan Cross Culture Festival sebagai bagian dari agenda akademik dan kultural.
Pada kesempatan yang sama, pendiri Perempuan BerBudaya Berkarya Indonesia (PBBI) sekaligus mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Ekuador periode 2016–2020, Diennaryati Tjokrosuprihatono, menilai Cross Culture Festival sebagai ruang strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional. Menurutnya, masyarakat asing menaruh kekaguman besar terhadap keramahan dan keberagaman budaya Indonesia.
Ia juga mengingatkan bahwa modernisasi yang tidak disikapi secara bijak dapat menimbulkan dampak negatif, termasuk terhadap lingkungan dan nilai-nilai tradisional. Dalam konteks tersebut, festival budaya menjadi ruang refleksi agar perubahan dan tradisi dapat berjalan secara seimbang.
Sementara itu, Dekan FBS UNAS, Dra. Nana Yuliana, M.A., M.Si., Ph.D., menyoroti tantangan global yang dihadapi mahasiswa, terutama terkait keterbatasan lapangan kerja di dalam negeri. Ia menjelaskan bahwa fakultas secara aktif membuka peluang internasional melalui program magang ke luar negeri, khususnya ke Jepang.
Menurutnya, lebih dari 100 mahasiswa telah mengikuti program magang tersebut, tidak hanya dari FBS, tetapi juga dari fakultas lain, seperti Fakultas Teknik. Program ini diharapkan dapat menjadi bekal kompetensi global bagi mahasiswa UNAS dalam menghadapi dunia kerja.
Lebih lanjut, Nana Yuliana menekankan pentingnya pemahaman lintas budaya, kesetaraan gender, serta penghapusan stereotipe antara kelompok mayoritas dan minoritas. Ia menilai Cross Culture Festival sebagai ruang pembelajaran untuk menumbuhkan sikap saling memahami dan menghormati dalam keberagaman.
Menutup sambutannya, ia mengapresiasi kerja keras mahasiswa dan dosen yang tetap menyukseskan kegiatan meskipun dilaksanakan di tengah hujan deras. Ia berharap Cross Culture Festival ke-3 dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif, damai, dan berbudaya.
“Semoga Unity in Motion: A Festival of Arts and Cultures terus menjadi ruang persatuan dan pembelajaran bagi sivitas akademika dan masyarakat luas,” ujarnya. (TIN)




