PPI Bersama LP3ES adakan Webinar Isu Lingkungan dengan Pandangan Agama Islam.

Jakarta (UNAS) – Dewasa ini perubahan lingkungan hidup membuat hilangnya keseimbangan alam. Keadaan ini disebabkan oleh adanya eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, pencemaran lingkungan oleh manusia dan menurunnya tingkat kesuburan tanah, serta hilangnya keseimbangan lahan yang mengakibatkan tanah longsor dan banjir bandang, yang mengancam kehidupan manusia.

Prihatin akan dampaknya perubahan lingkungan hidup, Pusat Pengajian Islam bekerjasama dengan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) menggelar Webinar bahas isu lingkungan hidup dengan pandnagan Agama Islam pada Kamis (10/6).

Webinar dengan tema Krisis Iklim Global, Moral Manusia dalam Mengelola Bumi mengundang beberapa narasumber untuk berdiskusi; Dr. Fachruddin Mangunjaya, M.Si ( Dosen Pascasarjana & Ketua Pusat Pengajian Islam UNAS), Nazaruddin Umar ( Imam Besar Masjid Istiqlal), Azyumardi Azra ( Cendekiawan Muslim),Soeryo Adiwibowo ( Penasihat Senior KLHK), dan Gita Syahrani ( Aktivis Lingkar Temu Kabupaten Lestari).

Dr. Fachruddin Mangunjaya, M.Si

Dalam diskusinya, Dr. Fachruddin Mangunjaya, M.Si menjelaskan bahwa krisis global adalah persoalan kita semua dan merupakan tanggung jawab kita dalam menjaganya. “ Krisis global sebenarnya adalah persoalan kita semua dan setiap negara berkewajiban untuk bertanggung jawab. Sumber daya ini yang harus kita pelihara, sebagai umat islam dikaruniai sebuah kekayaan alam dan tugas kita sebagai khalifah di bumi harus bisa menjaganya, ini merupakan Amanah bagi kita, ” jelas Dosen yang baru saja meluncurkan buku yang berjudul Generasi Terakhir ini.

Ia juga bercerita mengenai bukunya “Generasi Terakhir”. Generasi Terakhir diambil dari pidato Sekjen PBB Antonio Guterres tahun 2018/2019. Fachruddin mengutip dari pidato tersebut, kita adalah generasi terakhir yang dapat mencegah kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada planet kita. Dalam bukunya, Fachruddin menyoroti bagaimana Islam sebagai agama dapat memberikan kontribusi yang besar apabila umatnya memperhatikan teks dan konteks mengenai lingkungan.

Nazaruddin Umar

Sependapat dengan Fachruddin, Nazaruddin Umar ( Imam Besar Masjid Istiqlal) memberikan apresiasinya dan memaparkan bahwa isu lingkungan hidup ini merupakan tantangan dalam menjaga bumi. “Saya apresiasi terhadap adinda Fachruddin, dalam bukunya yang membahas isu lingkungan hidup dengan pandangan agama islam menggambarkan sebuah tantangan. Buku ini menyadarkan kita supaya menjadi lebih aware dan sadar. Saat ini kita berada dalam masalah besar dan perlu diperbaiki,” ujarnya.

Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut juga menambahkan kalau di dalam Alquran sudah dijelaskan bahwa kerusakan lingkungan hidup adalah ulah tangan manusia.

Azyumardi Azra

Sementara itu, Azyumardi Azra yang merupakan Cendekiawan Muslim berpendapat bahwa bukan hanya global warming yang menjadi permasalahan dunia tetapi juga soal ekosistem. “Saya kira bukan hanya global warming tapi juga soal ekosistem jadi tantangan yang besar bagi dunia. Ledakan penduduk semakin menjadikan kurangnya air bersih, urbanisasi dan kemiskinan harus diatasi. Ini merupakan agenda bersama”, paparnya.

Soeryo Adiwibowo

Disisi lain, Soeryo Adiwibowo, Penasihat Senior KLHK memaparkan bahwa bisa jadi perubahan iklim dan pandemik ini saling bertautan. “Sekarang ini zaman modern kita dihadapi dengan krisis yang luar biasa yaitu perubahan iklim dan pandemic, bisa jadi ini saling berkaitan satu sama lain, dimana pandemic covid-19 muncul oleh perubahan iklim karena mencairnya lapisan es yang dimana bakteri dan virus yang dulunya terkurung dalam es sekarang muncul, atau bisa jadi ini merupakan produk manusia. Ini yang perlu di teliti, ” terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, pembicara Gita Syahrani yang merupakan  Aktivis Lingkar Temu Kabupaten Lestari juga mengapresiasi buku Generasi Terkahir yang dalam bukunya menerapkan pendekatan Agama Islam dalam menanggapi isu Lingkungan hidup.

Gita Syahrani

“Saya baru menemukan buku yang tidak hanya menggunakan saintik tetapi juga agama, dibuku ini menghadirkan satu hal yang menjadi kegelisahan saya, ini bukan persoalan menjaga bumi, bumi itu bisa menjaga dirinya sendiri tetapi ini lebih ke menjaga sanak saudara, adik kakak, dan umat manusia. Karena seperti yang kita lihat selama corona terus lockdown sehingga aktivitas manusia berkurang, bumi kembali pulih. Temen- temen yang mau bergerak dalam isu lingkungan hidup harus merubah paradigma merubah mindsetnya, ”. Pungkas Gita. (*TIN)