Melalui Pelatihan Radio, Penyiar ajak Mahasiswa Miliki Karakter Suara yang Khas

JAKARTA – Menjadi seorang penyiar radio yang baik dan handal tentu saja harus memiliki karakter suara yang unik. Karakter tersebut dapat menjadi ciri khas penyiar ditelinga para pendengar. Hal ini disampaikan oleh dua penyiar radio Indonesia, Willy Winarko dan Leo Utomo pada saat kegiatan Pelatihan Penyiar Radio yang diselenggarakan oleh Universitas Nasional (UNAS) Radio, Kamis (3/12).

Menurut Willy, suara yang unik dan berkarakter merupakan salah satu ciri untuk bisa menjadi seorang penyiar radio. Selain mudah dikenal oleh pendegar, suara dengan karakter yang bagus juga bisa menjadi ciri khas suatu radio dan dapat membuat nyaman didengar.

“Kita sebagai penyiar radio harus punya karakter tersendiri yang menggambarkann diri kita. Tetapi yang paling penting adalah jadi diri sendiri dengan suara yang kita punya, bukan berarti kita harus mengikuti gaya suara penyiar lain,” ujar penyiar Mustang FM itu.

Selain itu, lanjutnya, untuk menciptakan suara yang berkarakter, mahasiswa harus sering berlatih dan menggali informasi dari penyiar-penyiar yang handal. Tak hanya itu, sebagai penyiar radio mahasiswa juga harus belajar menguasai banyak pengetahuan dan up to date terhadap informasi-informasi.

“Suara kita akan didengarkan sama siapa aja, makanya berlatih itu penting. Semua awalnya juga pasti akan gugup didepan microfone, namun dengan sering berlatih pasti lama-lama akan lancar, ada prosesnya. Nah, saat berlatih itulah kita juga harus bisa menentukan ciri khas kita sebagai penyiar, entah kita mau gaya nya cool, atau suka nyelipin humor-humor disela-sela ngomong, atau gaya-gaya yang lain yang mencerminkan kita banget. Biar saat orang lain denger di radio, ohh.. ini suaranya berat dan cool pasti Willy yang lagi siaran. Jadi pendengar udah tau gitu, hahaha,” terangnya mencontohkan sambil tertawa.

Senada dengan Willy, Leo yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan itu mengatakan, tips untuk dapat diterima dan dikenal dalam industri radio adalah menjadi diri sendiri, memiliki wawasan yang luas, serta kepercayaan diri. “Walaupun yang dinikmati hanya suara saja, tetapi yang harus diperhatikan nggak hanya karakter suara, juga hal-hal lain seperti etika dan wawasan yang luas,” jelasnya.

Untuk dapat memiliki karakter yang khas, lanjutnya, penting bagi mahasiswa untuk belajar dan menguasai teknik vocal yang baik. Selain dapat memperjelas suara, menguasai teknik vocal juga dapat memperlancar seseorang dalam bersiaran nantinya.

“Belajarnya bisa berawal dari vokal A I U E O dengan baik dan benar, lalu kemudian praktiknya awalnya bisa belajar membuat skrip sendiri dan membacanya. Hampir sama seperti belajar public speaking cuman ini lebih ke suaranya aja yang dipelajarin,” kata dia.

Menurut penyiar Gen FM itu, saat ini media radio memiliki perkembangan yang begitu pesat dan memiliki persaingan yang begitu ketat. Meskipun eksistensi tidak seperti televisi, tuturnya, industri radio juga memiliki segudang manfaat untuk suatu media.

“Radio itu enak, kita dengerinnya bisa santai bisa sambil melakukan apa saja. Selain itu, penyiar-penyiar radio juga sejahtera, jadi saya betul-betul rekomendasiin temen-temen mahasiswa UNAS buat masuk ke industri radio karena nggak kalah keren dari media yang lain,’’ imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Laboratorium Radio UNAS, Djujur Luciana Radjagukguk, S.Sos., M.Si. mengatakan, ilmu mengenai radio selalu bertambah dan berkembang sehingga perlu bagi mahasiswa UNAS yang juga penyiar radio UNAS Radio untuk bisa mengupdate pengetahuan mereka. Ia juga berharap penyiar UNAS Radio dapat bermain dengan suara dan berkarya dengan imajinasi mereka.

“Radio bermain dengan suara bukan dengan fisik sehingga melatih kemampuan berbicara itu sangat penting. Oleh sebab itu pelatihan ini sangat bermanfaat sekali bagi para penyiar untuk bisa menggali sedalam-dalamnya tentang dunia radio sehingga bisa terus berkembang dengan membawa nama UNAS Radio lebih baik lagi,” harapnya.(*NIS)