Jakarta(UNAS) – Prosesi wisuda Universitas Nasional (UNAS) Periode I Tahun Akademik 2024/2025 turut dihadiri oleh Dr. (HC) Drs. Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, yang juga merupakan Warga Kehormatan UNAS. Dalam sesi pembekalannya, Jusuf Kalla menekankan bahwa para lulusan harus mempersiapkan diri menghadapi tantangan besar di dunia nyata.
Ia mengungkapkan bahwa kondisi global yang penuh gejolak—seperti konflik antarnegara, krisis ekonomi, dan disrupsi teknologi—menjadi latar belakang penting bagi lulusan untuk memiliki pola pikir yang logis, inovatif, dan berani mengambil risiko.
“Dunia saat ini sedang berada dalam krisis. Dari perang Rusia–Ukraina hingga konflik Israel dan Gaza, semuanya berdampak pada perekonomian global, termasuk Indonesia,” ujarnya.

Dr. (HC) Drs. Muhammad Yusuf Kalla Wakil Presiden ke 10 dan ke 12 Republik Indonesia/ Warga Kehormatan UNAS saat menyampaikan pembekalan kepada wisudawan/i UNAS, di JCC Senayan, Minggu, 15 Juni 2025
Dampak dari krisis tersebut, lanjutnya, mencakup penurunan harga komoditas, melemahnya penerimaan negara, serta berkurangnya lapangan kerja. Dalam situasi seperti ini, lulusan perguruan tinggi tidak hanya dihadapkan pada pilihan untuk melamar pekerjaan, tetapi juga dituntut untuk berkarya dan menciptakan lapangan kerja sendiri.
“Menjadi wirausaha adalah pilihan yang rasional dan relevan saat ini,” tegas Jusuf Kalla.
Ia menambahkan, semangat kewirausahaan harus dibarengi dengan keberanian, kegigihan, dan inovasi. “Ingat, tidak ada pengusaha besar yang langsung sukses. Semuanya dimulai dari bawah,” katanya.
Jusuf Kalla juga menekankan pentingnya belajar sepanjang hayat dan kemampuan beradaptasi, terutama di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang terus mengubah lanskap dunia kerja.
“Jika Anda berhenti belajar, Anda akan tertinggal. Teknologi berubah setiap lima tahun. Apa yang Anda kuasai hari ini bisa saja menjadi usang esok hari,” lanjutnya.
Ia juga mengajak para lulusan untuk memanfaatkan potensi sumber daya lokal, termasuk melanjutkan usaha keluarga di daerah asal sebagai bentuk kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. “Jangan malu memulai dari kampung halaman. Banyak yang sukses justru berawal dari sana,” tuturnya.
Lebih lanjut, Jusuf Kalla menyampaikan bahwa Indonesia mencetak lebih dari 800.000 lulusan sarjana setiap tahun, sementara peluang kerja formal semakin terbatas. Oleh karena itu, lulusan diminta untuk tidak sekadar menjadikan ijazah sebagai kebanggaan, tetapi sebagai bekal membangun masa depan dengan kerja keras dan dedikasi.
“Dunia saat ini membutuhkan keberanian, bukan hanya nilai akademik. Maka, jangan takut gagal. Kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda,” pungkasnya.
Menutup pembekalannya, Jusuf Kalla mengajak seluruh lulusan untuk merenungkan kembali cita-cita dan visi hidup mereka. Ia juga mengingatkan bahwa doa dan dukungan orang tua merupakan bekal paling berharga dalam meraih kesuksesan.(DMS)
Bagikan :


