Jakarta (Humas UNAS) – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III menyerahkan Surat Keputusan (SK) Jabatan Akademik Guru Besar kepada para dosen dari sejumlah perguruan tinggi swasta di wilayah Jakarta, termasuk Universitas Nasional (UNAS). Kegiatan ini diselenggarakan pada Selasa, (10/2/2026), bertempat di Kantor LLDIKTI Wilayah III, Jakarta.
Dalam agenda tersebut, UNAS menerima SK Guru Besar untuk tiga dosen, yaitu Dr. Agung Triayudi, S.Kom., M.Kom. sebagai Profesor dalam ranting ilmu/kepakaran Machine Learning, Dr. Erna Ermawati Chotim, M.Si. sebagai Profesor dalam ranting ilmu/kepakaran Sosiologi Ekonomi dan Gender, serta Dr. Septi Andryana, S.Kom., M.M.S.I. sebagai Profesor dalam ranting ilmu/kepakaran Decision Support and Analytics.
Tiga penerima SK Guru Besar tersebut juga merupakan figur akademik yang aktif memegang peran strategis di lingkungan kampus. Dr. Agung Triayudi, S.Kom., M.Kom. saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknologi Komunikasi dan Informatika (FTKI) UNAS. Sementara itu, Dr. Dra. Erna Ermawati Chotim, M.Si. mengemban amanah sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNAS. Adapun Dr. Septi Andryana, S.Kom., M.M.S.I. merupakan dosen FTKI UNAS yang selama ini aktif dalam penguatan bidang keilmuan berbasis teknologi dan analitik data.
Penyerahan SK ini menjadi salah satu bentuk penguatan kualitas sumber daya manusia perguruan tinggi, sekaligus menandai peningkatan kapasitas akademik institusi dalam mendukung pendidikan tinggi berbasis riset dan pengabdian masyarakat.



LLDIKTI: Guru Besar adalah Amunisi Baru untuk Kemajuan Perguruan Tinggi
Kepala LLDIKTI Wilayah III, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada para penerima SK Guru Besar. Ia menekankan bahwa pencapaian tersebut bukan proses singkat, melainkan melalui tahapan panjang yang ketat.
“Kami sampaikan pertama selamat dulu kepada bapak ibu yang nanti menerima SK Guru Besar. Kami tahu penantian bapak ibu sekalian untuk mendapatkan SK ini,” ujar HenrI. Ia juga menjelaskan bahwa proses pengajuan Guru Besar saat ini semakin ketat, mulai dari proses publikasi ilmiah hingga verifikasi oleh asesor.
“Untuk mendapatkan Guru Besar itu saat ini sangat ketat. Kalau tidak salah katanya titik koma saja masih dipermasalahkan,” ucapnya.
Henri menambahkan, bertambahnya Guru Besar di perguruan tinggi akan menjadi “amunisi baru” yang dapat meningkatkan mutu institusi, baik pada level universitas maupun program studi.
Menurutnya, LLDIKTI berharap para profesor baru dapat menjadi penggerak dalam membina dosen-dosen lain, khususnya dosen muda yang sedang mempersiapkan jenjang akademik lebih tinggi. “Kami berharap juga Guru Besar baru ini bisa membawa gerbong lagi, mendampingi dosen-dosen kita yang tahap pengajuan Guru Besarnya,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala LLDIKTI Wilayah III turut menyoroti ragam bidang kepakaran para Guru Besar yang dinilai strategis dan relevan bagi kebutuhan masyarakat. Ia menyebut bidang seperti machine learning, sosiologi ekonomi, hingga analytics dan decision support sebagai rumpun keilmuan yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan nasional.
Ia menegaskan bahwa kepakaran para Guru Besar tidak boleh berhenti sebagai ilmu yang “menara gading”, melainkan harus dapat dihilirisasi dan memberi dampak langsung.



Dorong Peningkatan SDM Dosen: Rasio Doktor Masih 25 Persen
Lebih lanjut, Kepala LLDIKTI Wilayah III juga menyinggung pentingnya penguatan kualitas dosen, terutama dalam jenjang pendidikan doktoral (S3). Ia menyampaikan bahwa rasio dosen bergelar doktor di Indonesia masih relatif rendah. “Rasio dosen kita yang untuk S3 itu untuk seluruh Indonesia kita baru 25 persen,” jelasnya.
Henri pun mendorong perguruan tinggi agar dapat memanfaatkan program beasiswa yang tersedia, termasuk program doktor untuk dosen Indonesia serta dukungan beasiswa lain seperti LPDP, guna meningkatkan jumlah dosen bergelar doktor.
Ia juga mengaitkan peningkatan jumlah Guru Besar dengan kesiapan perguruan tinggi dalam membuka program studi baru, termasuk jenjang S3. “Dengan bertambahnya Guru Besar, Prodi-Prodi kita juga siap. Kalau prodinya belum ada S3, bisa kita usulkan,” ungkapnya.
Kepala LLDIKTI Wilayah III juga menegaskan bahwa setelah menjadi Guru Besar, tantangan akademik justru semakin besar. Para profesor diharapkan tidak berhenti pada capaian jabatan akademik, tetapi terus meningkatkan produktivitas riset, publikasi ilmiah, dan pengabdian masyarakat.
Henri bahkan menyampaikan bahwa Guru Besar akan menjadi rujukan, bukan hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di tengah masyarakat. “Bapak ibu akan menjadi rujukan, akan menjadi tempat bertanya walaupun bukan bidang kepakarannya,” katanya.



UNAS: Penambahan Guru Besar Jadi Kontribusi Besar untuk Kemajuan Universitas
Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Keuangan, dan SDM UNAS, Prof. Dr. Suryono Efendi, S.E., M.B.A., M.M., turut menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut.
Dalam sambutannya, Prof. Suryono menyebut penyerahan SK Guru Besar sebagai momen luar biasa, serta diharapkan membawa keberkahan dalam menjalankan tugas akademik. Prof. Suryono juga menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan kontribusi penting untuk kemajuan universitas, sekaligus menjadi motivasi bagi dosen lain yang sedang mempersiapkan pengajuan Guru Besar.
Ia menyampaikan apresiasi kepada LLDIKTI Wilayah III atas dukungan dan pendampingan yang telah diberikan. “Kami ucapkan terima kasih kepada Wilayah III atas bimbingan dan dukungannya sehingga dosen kami bisa meraih Guru Besar,” tutur Prof. Suryono.
Prof. Suryono juga menyampaikan harapan agar para Guru Besar baru dapat memberikan kontribusi lebih besar, baik bagi institusi maupun masyarakat. “Mudah-mudahan para Guru Besar semuanya yang hari ini menerima bisa memberikan kontribusi yang lebih besar,” ujarnya.



Perkuat Posisi UNAS dalam Pengembangan Teknologi dan Ilmu Sosial Strategis
Penyerahan SK Guru Besar kepada tiga dosen UNAS ini memperkuat posisi Universitas Nasional dalam pengembangan bidang-bidang strategis, baik dalam rumpun teknologi maupun ilmu sosial.
Dalam bidang teknologi, kepakaran Machine Learning serta Decision Support and Analytics menjadi kompetensi penting yang relevan dengan kebutuhan transformasi digital, penguatan sistem berbasis data, dan pengembangan kecerdasan buatan.
Sementara dalam bidang sosial, kepakaran Sosiologi Ekonomi dan Gender menjadi fondasi penting dalam mendorong riset-riset yang berorientasi pada keadilan sosial, kesetaraan gender, serta analisis kebijakan ekonomi yang berpihak pada masyarakat.
Kegiatan penyerahan SK Guru Besar ini sekaligus menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk memperkuat kualitas akademik, memperluas dampak riset, dan mendorong hilirisasi ilmu pengetahuan agar benar-benar membumi serta bermanfaat bagi bangsa dan negara. (*Dimas Wijaksono)
Bagikan :


