Konferensi Internasional FISIP UNAS Ingatkan Pentingnya Bahu-Membahu Atasi Pandemi

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Jakarta (UNAS) – Menindaklanjuti kerjasama dalam bidang penelitian dan publikasi dengan 4 bidang ilmu, Politik, Hubungan Internasional, Sosiologi dan Komunikasi, Universitas Nasional berkesempatan sebagai host Konferensi Internasional bersama dengan Universitas Bakrie, Universitas Bina Nusantara, Universitas Kristen Indonesia, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Pelita Harapan dan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menggelar International Conference on Social Sciences (ICOSSCI) dari Konsorsium Ilmu Sosial di wilayah LLDIKTI 3 pada Rabu (24/11).

Konferensi Internasional mengangkat tema “Solidarity, Creativity dan Connectivity” yang berperan penting untuk bersama-sama membantu pemerintah dalam menangani isu ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di masa pandemic covid-19.

Hadir sebagai speaker, Dosen Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional Dr. M. Alfan Alfian M, M.Si., menyinggung mengenai dampak pandemic covid-19 yang dialami di masa pemerintahan era Jokowi, tentang melemahnya perekonomian nasional yang dirasakan langsung oleh masyarakat adalah proyek strategis (infrastruktur) tertunda sementara, namun jika dilihat Indonesia termasuk Negara cukup baik dalam menangani Covid-19.

“ Pemerintah terus mengupayakan kebijakan yang terbaik dalam penanganan covid 19. Meskipun dalam prakteknya banyak mengalami keterbatasan dan kendala di lapangan, secara umum dapat diketahui bahwa: penanganan pandemi Covid-19 semakin efektif (jika dibandingkan dengan negara lain, capaian Indonesia cukup baik dan on the right track). Beberapa event Nasional (seperti kompetisi olahraga nasional) sudah bisa diadakan menjelang akhir tahun 2021, ” terangnya dalam materi.

Alfan menjelaskan bahwa seluruh masyarakat  perlu mengapresiasi kinerja pemerintah, dalam mengatasi permasalahan covid 19. Di dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia dirasakan mengalami peningkatan. “ Pada tahun 2019 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)  71,92, dan tahun 2020 : 71,94 dan di tahun 2021 sebanyak 72,29. Saya mengharapkan peningkatan IPM akan mendorong peningkatan kualitas pembangunan berkelanjutan, ” ujarnya.

Dalam tatanan sistem politik menurut Alfan juga telah berubah menjadi lebih demokratis, kebijakan pembangunan di era Jokowi sejak tahun 2004 telah ditandai dengan kebijakan nasional yang cenderung developmentalistik. “ Pembangunan ekonomi berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, yang menekankan pada pertumbuhan investasi. Melalui Undang-Undang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) orientasi investasi dianggap mengesampingkan hak-hak buruh serta tidak menjamin kualitas lingkungan termasuk fenomena deforestasi yang menjadi kritik kelompok lingkungan sehingga seolah mengabaikan paradigma pembangunan berkelanjutan, ” katanya.

Sebagai akademisi, ia berharap ” pemangku kepentingan untuk menimbang kritikan yang membangun agar pembangunan Nasional berada dalam koridor keseimbangan antara demokrasi, pemerintahan dan pembangunan berkelanjutan. Pembuat kebijakan harus belajar dari kegagalan Orde Baru dalam menjalankan kebijakan Developmentalisme yang tidak memperhatikan keseimbangan antara demokrasi, pemerintahan, dan pembangunan berkelanjutan, ” tandasnya.

Menyikapi hal itu Associate Professor Dr. Zaini Othman Universiti Malaysia Sabah, menegaskan untuk memerangi virus covid-19 informasi dan fakta harus diperiksa dengan baik. Sehingga segala kebijakan yang diolah dapat direalisasikan dengan optimal ke masyarakat luas.

Disisi lain,Associate professor Doreen Lee Northeastern University mengungkapkan mengenai cara menghadapi pandemi melalui riset Antropolog. “Bisa dilihat cara menghadapi pandemic melalui riset antropolog adalah bisa dengan olahraga teratur, berbagi sumbangan masker, bantuan oksigen dan yang sekarang diterapkan adalah WFH (Work From Home), ” paparnya.

Konferensi Internasional ini juga menghadirkan Tantowi Yahya Duta Besar Selandia Baru, ia menyampaikan bahwa untuk menekan penyebaran virus covid-19 dibutuhkannya kerjasama solidaritas hubungan antar Negara. “ Solidaritas yang saya maksud adalah akar dari hubungan antar Negara, tidak ada sebuah Negara di dunia ini yang bisa mengatasi virus covid-19 ini sendirian, kita saling membutuhkan satu sama lain,” ujarnya.

Sementara itu dalam penutupannya, Kepala Layanan Lembaga Pendidikan Tinggi Wilayah Tiga Jakarta Prof. Dr. Agus Setyo Budi, M.Sc., mengatakan “ adanya konsorsium ini jelas merupakan bentuk sinergi perguruan tinggi nasional dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi serta menciptakan budaya penulisan karya ilmiah yang pada Bangsa berilmu akan masuk ke lembaga seminar dan publikasi untuk profil resume Pusat Layanan Pendidikan Tinggi ”.

Wabah pandemi Covid-19 dalam kaitan krisis ekonomi global telah mengakibatkan gangguan pasokan bahan pangan yang lebih lama dari perkiraan, menurut Prof. Stanislav Tkachenko St. Petersburg State University ini menyebabkan melambatnya pertumbuhan industri dan jasa serta meningkatnya inflasi.

Kegiatan Konferensi Internasional ini disambut baik oleh Rektor Universitas Nasional. Dr. El Amry Bermawi Putera, M.A., juga menyampaikan bahwa melalui pertemuan ini bisa dijadikan wadah bertukar informasi dan kemudian dijadikan pertimbangan oleh para pemangku kebijakan. “Dalam kegiatan ini bisa memberi manfaat dan kontribusi secara khusus ke pembuat kebijakan dana reguler di zaman sekarang, pertemuan ini juga bisa untuk mendorong inovasi pengembangan pengetahuan dan teknologi apalagi di era new normal,” terangnya.

Ia berharap penelitian Sosial dan Politik pada International Conference on Social Sciences.“Konferensi ilmiah semacam ini harus konsisten didorong karena mereka berfungsi sebagai sarana untuk akademisi dan peneliti menyebarluaskan hasil penelitian untuk kemaslahatan orang banyak,” pungkasnya.(*TIN)

 

Berita Terbaru
Chat with Us!