Jadi Pembicara dalam Seminar Internasional, Suryono Cermati Sistem Pendidikan Eropa dan Indonesia

Jakarta (Unas) – Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Universitas Nasional (Unas) Dr. Suryono Effendi, S.E., M.B.A. M.M. jadi pembicara dalam International Conference on Sustainable Education and Human Capital Support in EU Contries, yang diselenggarakan oleh Universitas Narotama dengan RUDN University. Dalam paparannya itu, Ia mencermati mengenai perbandingan sistem Pendidikan di Eropa dan Indonesia.

Suryono mengatakan, sistem Pendidikan di Eropa dilalui dengan berbagai tahap yakni pre-school education, primary school, secondary school, dan university. Pembelajaran yang diajarkan dalam sistem Pendidikan ini diikuti dengan berbagai pelatihan.

Dr. Suryono Effendi, S.E., M.B.A. M.M.

“Jadi di Eropa sendiri, sistem Pendidikan sangat dikaitkan dengan pelatihan yang memberikan kontribusi keberlanjutan mengenai dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Pendidikan dan pelatihan yang berkualitas adalah kekuatan pertumbuhan ekonomi, kohesi sosial, penelitian, dan inovasi yang dapat meningkatkan pembangunan masyarakat di Eropa,” jelasnya dalam seminar virtual tersebut, pada Sabtu, (04/09).

Ia melanjutkan, terdapat 4 tujuan penting Pendidikan di Eropa yakni mendapatkan pembelajaran yang bermanfaat seluruh hidup, meningkatkan kualitas peserta didik dengan inovasi, mempromosikan kesetaraan kohesi sosial dan kewarganegaraan, serta meningkatkan jiwa kreativitas dan kewirausahaan.

“Seluruh masyarakatnya mendapatkan hak atas Pendidikan, pelatihan, dan pembelajaran sepanjang hayat yang berkualitas dan inklusif telah menjadi prinsip utama hak sosial rakyat Eropa. Lulusan ditingkat perguruan tinggi pun yang dihasilkan sangat tinggi,” tuturnya.

Selain itu, sistem Pendidikan di Eropa juga mengkaitkan antara pembelajaran dan tenaga kerja. Menurutnya, terdapat empat negara eropa yang memiliki tingkat Pendidikan terbaik yakni Jerman, Swedia, Belanda, Prancis, dan Finlandia.

Di sisi lain, tambah Suryono, sistem Pendidikan di Indonesia memiliki tingkatan yang sama dengan Pendidikan di Eropa seperti tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi. Namun, Pendidikan di Eropa sudah mulai digagas keterkaitannya antara dunia Pendidikan dengan industri tenaga kerja.

“Sebenarnya Indonesia sendiri pada tahun 2019 sudah mulai digagas kurikulum terbaru yakni Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Kurikulum ini memiliki model kurikulum yang diharapkan memiliki keterkaitan antara dunia Pendidikan, usaha, dan industry. Tetapi, beberapa institusi Pendidikan baru mencoba menggagas program pemerintah ini,” imbuhnya. Ia berharap, dengan adanya program MBKM ini dapat meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia dan mendorong kreativitas seluruh peserta didik, sehingga dapat mudah menghadapi persaingan di dunai industri. (NIS)