Ishmah Luthfiyah: Coconut Shell Bisa Jadi Aset Strategis Indonesia dalam Transisi Energi Global

Dalam paparannya, Ishmah mengungkapkan bahwa meski Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia, lebih dari 70% limbah tempurung kelapa masih terbuang sia-sia. Padahal, tempurung kelapa mengandung lignin dan selulosa tinggi, yang sangat potensial untuk dijadikan material activated carbon komponen utama dalam teknologi penyimpanan energi seperti baterai dan superkapasitor.

“Saya ingin mengubah tempurung kelapa dari limbah menjadi produk bernilai tinggi. Activated carbon dari bahan ini sangat cocok untuk energi storage,” ungkap Ishmah.

Ia juga menyebutkan bahwa saat ini Indonesia masih banyak mengimpor activated carbon dari negara lain, seperti Vietnam, meskipun memiliki sumber daya lokal yang melimpah. Hal ini, menurutnya, disebabkan oleh keterbatasan SDM, teknologi, dan belum adanya standarisasi kualitas yang kuat di dalam negeri.

Melalui startup yang tengah ia rintis, Ismah mengembangkan proses otomatisasi produksi activated carbon dari tempurung kelapa dengan biaya produksi yang lebih efisien. Produk ini dikembangkan dalam berbagai morfologi struktur karbon seperti 0D spherical, 1D nanofiber, hingga 3D sponge, yang dapat meningkatkan performa energi storage.

Ia memaparkan data bahwa struktur 3D sponge dari tempurung kelapa dapat mencapai kapasitas spesifik hingga 490 F/g, meski luas permukaannya hanya sekitar 1383 m²/g. Ini membuktikan bahwa bukan hanya luas permukaan, tetapi juga struktur mikro dan jenis elektrolit yang digunakan sangat menentukan efisiensi penyimpanan energi.

“Dengan riset dan pendekatan yang tepat, kita bisa menghasilkan produk berstandar tinggi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tapi juga siap ekspor,” ujarnya.

Ishmah juga menyoroti bahwa ke depan, pasar activated carbon global akan tumbuh hingga 24%, dan pasar karbon dari tempurung kelapa meningkat 8,6% per tahun. Ia berharap ada regulasi nasional yang mendukung kualitas standar produk, serta sinergi antara peneliti, pemerintah, dan pelaku industri.

“Coconut shell bisa jadi aset global untuk transisi energi. Tapi kita harus mulai dari sekarang: dari riset, produksi, hingga kebijakan,” pungkasnya. (*DMS)

Bagikan :

Info Mahasiswa

Related Post

CSERM UNAS Ikuti Kick Off Meeting Proyek Blue Communities Guna Jaga Kelestarian Laut
PPU UNAS KEMBALI GELAR DONOR DARAH
Sharing Session (HIMASI UNAS)
Dorong Prestasi Mahasiswa, MPR UNAS Gelar Wawancara Beasiswa Gelombang Kedua
Seminar Nasional Fakultas Hukum UNAS: Evaluasi Tata Tertib DPR sebagai Upaya Perbaikan Legislasi
KPS FH Unas Lakukan Kompetisi Peradilan Semu Dengan Tema Penegakan Hukum Dalam Pemberantasan Korupsi Hutan Nasional

Kategori Artikel

Berita Terbaru

Jadwal pelaksanaan PLBA T.A 2025/2026

Hari : RABU

SESI : 1

Tanggal : 24 September 2025

Pukul : 07.00 – 12.00 WIB

Auditorium Universitas Nasional

FAKULTAS

  1. FISIP
  2. FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA
  3. FAKULTAS TEKNIK DAN SAINS
  4. FAKULTAS TEKNOLOGI  KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

SESI : 2

Pukul : 13.00 – 16.00 WIB

Tempat : Auditorium Universitas Nasional

FAKULTAS

  1. FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
  2. FAKULTAS HUKUM
  3. FAKULTAS ILMU KESEHATAN
  4. FAKULTAS BIOLOGI DAN PERTANIAN

Tempat : Auditorium Universitas Nasional

Hari : Kamis

Tanggal 25 September 2025

Pukul : 07.00 – 16.00 WIB

  1. FISIP
  2. FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA
  3. FAKULTAS TEKNIK DAN SAINS
  4. FAKULTAS TEKNOLOGI  KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
  5. FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
  6. FAKULTAS HUKUM
  7. FAKULTAS ILMU KESEHATAN
  8. FAKULTAS BIOLOGI DAN PERTANIAN

Tempat : Auditorium Universitas Nasional