Jakarta (UNAS) – Peneliti muda dari Suranaree University of Technology, Thailand, Ishmah Luthfiyah, menekankan pentingnya pemanfaatan biomassa khususnya limbah tempurung kelapa sebagai bahan baku energi masa depan yang berkelanjutan. Hal ini ia sampaikan dalam seminar internasional bertema “Energy Transition Towards Net Zero Emission 2060: The Strategic Role of Engineers and Educators”, melalui zoom yang digelar secara hybrid, di Ruang Seminar Lt. 3, Menara UNAS, Ragunan, Rabu (23/7).
Dalam paparannya, Ishmah mengungkapkan bahwa meski Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia, lebih dari 70% limbah tempurung kelapa masih terbuang sia-sia. Padahal, tempurung kelapa mengandung lignin dan selulosa tinggi, yang sangat potensial untuk dijadikan material activated carbon komponen utama dalam teknologi penyimpanan energi seperti baterai dan superkapasitor.
“Saya ingin mengubah tempurung kelapa dari limbah menjadi produk bernilai tinggi. Activated carbon dari bahan ini sangat cocok untuk energi storage,” ungkap Ishmah.
Ia juga menyebutkan bahwa saat ini Indonesia masih banyak mengimpor activated carbon dari negara lain, seperti Vietnam, meskipun memiliki sumber daya lokal yang melimpah. Hal ini, menurutnya, disebabkan oleh keterbatasan SDM, teknologi, dan belum adanya standarisasi kualitas yang kuat di dalam negeri.
Melalui startup yang tengah ia rintis, Ismah mengembangkan proses otomatisasi produksi activated carbon dari tempurung kelapa dengan biaya produksi yang lebih efisien. Produk ini dikembangkan dalam berbagai morfologi struktur karbon seperti 0D spherical, 1D nanofiber, hingga 3D sponge, yang dapat meningkatkan performa energi storage.
Ia memaparkan data bahwa struktur 3D sponge dari tempurung kelapa dapat mencapai kapasitas spesifik hingga 490 F/g, meski luas permukaannya hanya sekitar 1383 m²/g. Ini membuktikan bahwa bukan hanya luas permukaan, tetapi juga struktur mikro dan jenis elektrolit yang digunakan sangat menentukan efisiensi penyimpanan energi.
“Dengan riset dan pendekatan yang tepat, kita bisa menghasilkan produk berstandar tinggi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tapi juga siap ekspor,” ujarnya.
Ishmah juga menyoroti bahwa ke depan, pasar activated carbon global akan tumbuh hingga 24%, dan pasar karbon dari tempurung kelapa meningkat 8,6% per tahun. Ia berharap ada regulasi nasional yang mendukung kualitas standar produk, serta sinergi antara peneliti, pemerintah, dan pelaku industri.
“Coconut shell bisa jadi aset global untuk transisi energi. Tapi kita harus mulai dari sekarang: dari riset, produksi, hingga kebijakan,” pungkasnya. (*DMS)
Bagikan :


