Jakarta (UNAS) – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi membuka International Conference on Biodiversity and Future Biology (ICo-BioFuB) 2025 sekaligus Kongres Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) ke-18 di Gedung Auditorium Universitas Nasional (UNAS), Selasa (26/8).
Kegiatan ini menjadi ajang penting bagi para akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi biologi untuk berbagi pengetahuan, ide, serta inovasi di bidang biologi dan lingkungan. Melalui forum ini, peserta diharapkan dapat memperkuat upaya konservasi dalam menjaga kelestarian alam, sekaligus berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan untuk masa depan yang berkelanjutan.
Turut hadir dalam kegiatan ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, Penasehat Manajemen UNAS, Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, S.H., S.E., M.E., Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerjasama Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt., Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian Dr. Fachruddin M. Mangunjaya, M.Si., Guru Besar Biologi Prof. Dr. Dedy Darnaedi, Prof. Dr. Dra. Sri Endarti Rahayu, M.Si., Pimpinan PBI Cabang Jakarta periode 2014 – 2022 Prof. Dr. Luthfiralda Sjahfirdi, M. Biomed., para dosen dan mahasiswa dilingkungan Biologi serta pengurus Perhimpunan Biologi Indonesia maupun Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung
Dalam sambutannya, Gubernur DKI Jakarta menekankan pentingnya forum ini sebagai wadah berbagi pengetahuan, ide, dan inovasi untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. “Konferensi ini adalah kesempatan luar biasa bagi kita semua untuk berbagi pengetahuan, ide, dan inovasi dalam upaya konservasi dan keberlanjutan. Saat ini kita menghadapi ancaman serius berupa deforestasi, perubahan iklim, pencemaran, eksploitasi berlebihan, hingga hadirnya spesies invasif yang mengganggu keseimbangan ekosistem,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak krisis pangan serta munculnya penyakit baru yang menuntut peran biologi dalam mencari solusi nyata. Menurutnya, keberadaan ilmuwan dan praktisi biologi semakin krusial di tengah kondisi global tersebut.
“Kolaborasi lintas disiplin ilmu sangat diperlukan untuk mencapai keseimbangan ekologis yang berkelanjutan. Setiap individu memiliki peran penting, baik dengan mendukung penelitian maupun melalui pilihan hidup yang ramah lingkungan,” tambah Pramono.
Konferensi ICo-BioFuB 2025 yang berlangsung bersamaan dengan Kongres PBI ke-18 ini diharapkan mampu melahirkan gagasan, inovasi, dan rekomendasi strategis terkait konservasi keanekaragaman hayati. Melalui sesi pleno dan paralel yang diikuti oleh pembicara dari berbagai negara, acara ini diproyeksikan membuka peluang kolaborasi riset internasional yang lebih luas.
“Semoga konferensi ini tidak hanya menghasilkan diskusi, tetapi juga melahirkan kerja sama nyata yang berdampak pada pelestarian alam dan keberlanjutan masa depan,” pungkas Gubernur DKI.
Penasehat Manajemen UNAS, Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, S.H., S.E., M.E.

Sementara itu, Prof. Yuddy dalam sambutannya menyoroti posisi Indonesia, khususnya Jakarta, sebagai wilayah dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Menurutnya, meskipun menghadapi urbanisasi, Jakarta tetap menjadi habitat lebih dari 1.000 spesies burung, satwa langka, serta tumbuhan endemik.
“Jakarta memiliki ekosistem laut, darat, dan air tawar, mulai dari kepulauan Seribu dengan terumbu karang dan mangrove, hingga hutan kota, taman, dan ruang terbuka hijau yang menjadi penopang penting bagi keseimbangan ekologi,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lanjut Prof. Yuddy, telah menetapkan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati 2025–2029 dengan visi hidup selaras dengan alam. Program tersebut mencakup perlindungan mangrove, pembangunan taman kota, pengelolaan kebun bibit, riset, hingga kolaborasi multipihak.
“Ke depan, Jakarta berkomitmen menyeimbangkan pembangunan dengan pelestarian lingkungan, sekaligus berkontribusi pada tujuan nasional dan global di bidang konservasi,” tegas Yuddy.
Pimpinan PBI Cabang Jakarta periode 2014 -2022 Prof. Dr. Luthfiralda Sjahfirdi, M. Biomed menekankan pentingnya konferensi ini bukan hanya sebagai forum ilmiah, tetapi juga sebagai sarana membangun jejaring akademik dan kolaborasi riset antaruniversitas.
“Banyak mahasiswa di masa lalu bisa melanjutkan studi S2 dan S3 karena bertemu langsung dengan pakar di forum konferensi. Inilah yang seharusnya dimanfaatkan, bukan sekadar hadir untuk presentasi, tetapi juga membangun jaringan dan membuka peluang riset bersama,” ujarnya.
Ia juga mendorong agar perguruan tinggi di Jakarta, sebagai basis PBI Cabang Jakarta, lebih sering mengadakan kegiatan ilmiah bersama yang berkesinambungan.
Ketua Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI) Cabang Jakarta sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara Dr. Tatang Mitra Setia, M.Si. mengatakan bahwa kegiatan ini diselenggarakan bersamaan dengan Kongres ke-18 Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI), yang dilaksanakan oleh PBI Jakarta bekerja sama dengan Program Studi Biologi (S1) dan Program Pascasarjana Biologi, Fakultas Biologi dan Pertanian, Universitas Nasional.
Ia menegaskan bahwa konferensi ini merupakan kesempatan luar biasa bagi para ilmuwan, peneliti, dan praktisi untuk saling berbagi pengetahuan, ide, serta inovasi dalam upaya konservasi dan keberlanjutan. “Konferensi ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagi kita semua untuk berbagi pengetahuan, ide, dan inovasi dalam menjaga konservasi serta keberlanjutan lingkungan hidup,” ujarnya.
Ia menambahkan, di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan meningkatnya jumlah populasi manusia, peran para ilmuwan maupun praktisi biologi semakin krusial. Menurutnya, tema konferensi tahun ini, “Innovations for Conservation and Sustainability”, menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin untuk mencapai keseimbangan ekologi dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam rangkaian konferensi, para peserta akan membahas berbagai topik terkait keanekaragaman hayati, bioteknologi, restorasi ekosistem, serta peran masyarakat dan kebijakan dalam menjaga kelestarian lingkungan. “Melalui diskusi produktif dalam sesi pleno maupun paralel, saya berharap konferensi ini dapat membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas serta menghasilkan wawasan berharga bagi upaya konservasi,” jelasnya.
Ketua panitia juga menyampaikan apresiasi yang besar kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan acara ini, terutama kepada para pembicara dan peserta yang berkomitmen membagikan ilmu dan pengalaman. Ia menuturkan bahwa konferensi ini diharapkan mampu memperkaya pemahaman serta memperkuat kerja sama bersama dalam melestarikan keanekaragaman hayati, baik di Indonesia maupun dunia.
“Sebagai penutup, saya berharap acara ini membawa manfaat yang besar bagi kita semua. Mari kita jadikan konferensi ini sebagai langkah nyata dalam menjaga kelestarian alam dan memajukan ilmu pengetahuan demi masa depan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Adapun Konferensi ini didukung oleh Departemen Biologi Universitas Indonesia; Departemen Biologi Universitas Negeri Jakarta; Program Studi Biologi UIN Syarif Hidayatullah; Program Studi Pendidikan Biologi UHAMKA Jakarta; Program Studi Bioteknologi Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta; Program Studi Biologi Universitas Islam As’Syafiiyah; Departemen Antropologi Rutgers University; Max Planck Institute of Animal Behavior (Development and Evolution of Cognition); serta Departemen Bioteknologi UCSI University. (*DMS)
Bagikan :


