Jakarta (UNAS) – Tangan Dzimar Muhammad Azzam sempat bergetar sesaat sebelum ia melangkah ke podium. Di hadapannya, para akademisi, mahasiswa pascasarjana, dan peserta dari berbagai negara telah bersiap menyimak. Mahasiswa Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional (UNAS) itu akan mempresentasikan kajiannya tentang fenomena “The Hunting Coin Jagad Phenomena Young People from the Perspective of Jean Baudrillard’s Theory of Simulacra, Hyperreality and Consumer Society”. Tak ada yang ia bayangkan saat itu, bahwa beberapa jam kemudian namanya akan diumumkan sebagai Best Presenter pada International Conference on Future-Leader (ICOFL) Graduate 2025 di Universiti Sultan Zainal Abidin (UnisZa), Terengganu, Malaysia.
Momen itu menjadi puncak perjalanan akademiknya dalam rangkaian 2025 International Summer Schoolyang berlangsung pada 15–17 November 2025. Berangkat bersama delegasi FISIP UNAS, Dzimar membawa keresahan tentang budaya digital generasi muda di Indonesia tentang bagaimana realitas perlahan digeser oleh simulasi dan simbol-simbol semu di ruang virtual. Dengan bahasa akademik yang lugas namun tajam, ia membedah fenomena tersebut di hadapan audiens internasional.
Presentasi itu rupanya meninggalkan kesan mendalam bagi para juri. Analisisnya dinilai komprehensif, kritis, serta relevan dengan realitas sosial kontemporer. Ketika pengumuman Best Presenter disampaikan, Dzimar mengaku sempat tak percaya namanya disebut. Di antara puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mahasiswa asal Jakarta itu justru mencuri perhatian lewat kajian sosiologisnya terhadap fenomena digital yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi Dzimar, pencapaian itu bukan sekadar soal penghargaan, melainkan pembuktian bahwa mahasiswa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan peserta internasional dalam forum ilmiah bergengsi.
Perjalanan ke Terengganu memang bukan hanya tentang konferensi. Bersama empat rekannya Arthur Vicentzio Roring, Inayah Al Adawiyah, Daffa Henwar Wasis, dan Fitri Oktafiani. Dzimar juga terlibat dalam berbagai agenda akademik dan sosial, mulai dari International Post Graduate Colloquium, guest lecture, hingga pengabdian kepada masyarakat di Tabika Kemas Terengganu. Mereka juga menyusuri sudut-sudut kota hingga menatap megahnya Menara Kembar Petronas, Kuala Lumpur.
Namun, di balik semua rangkaian kegiatan itu, panggung presentasi dan pengumuman Best Presenter tetap menjadi titik yang paling membekas bagi Dzimar. Dari ruang kelas Sosiologi di UNAS hingga mimbar internasional di Malaysia, ia membuktikan bahwa kerja keras, ketekunan membaca realitas sosial, dan keberanian untuk tampil mampu membuka pintu prestasi di level global.
Wakil Dekan I FISIP UNAS, Nursatyo, S.Sos., M.Si., menilai capaian Dzimar sebagai bukti keberhasilan pembinaan akademik mahasiswa. Menurutnya, pengalaman internasional seperti ini menjadi bekal penting dalam membentuk karakter ilmuwan muda yang berwawasan global dan berdaya saing.
Bagi Dzimar, Best Presenter bukan akhir perjalanan. Ia justru menjadi awal dari mimpi yang lebih besar, mimpi untuk terus meneliti, menulis, dan berbicara tentang realitas sosial Indonesia di panggung dunia. (*DMS)
Bagikan :


