Mahasiswa UNAS Kembali Mengukir Prestasi

JAKARTA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan  oleh mahasiswa Universitas Nasional (UNAS) pada kompetisi umum tingkat nasional. Kali ini prestasi tersebut diraih oleh dua mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAS yaitu Dewi Nurindah Sari dari program studi Ilmu Administrasi Publik dan Fajar Martha dari Program Studi Sosiologi.

Diwawancari oleh Humas UNAS pada Rabu, (14/03), Dewi merupakan salah satu peserta dari kampus UNAS yang mengikuti lomba vlog bertemakan ‘pandangan tentang hukum di Indonesia’ yang  diadakan oleh pameran Mahkamah Agung. Sedangkan Fajar, merupakan satu satunya mahasiswa UNAS yang mengikuti lomba menulis essai bertemakan ‘Intoleransi dan Ekstriminisme di Indonesia,’ yang diadakan oleh Qureta.

“Awalnya informasi lomba itu di share melalui grup sama temen, dan aku sempat berpikir dua kali buat ikut karena nggak mengerti sama sekali tentang hukum. Cuman karena aku sempat nonton berita soal hukum di Indonesia dan browsing juga, jadi aku memutuskan buat ikut dan bikin vlog itu,” ujar Dewi.

Dalam vlog yang diunggah diakun youtobe pribadinya, Dewi menjelaskan pandangannya mengenai hukum di Indonesia yang sekiranya belum berjalan sempurna. Ia berharap hukum di Indonesia dapat lebih ditegaskan. 

Perempuan semester 4 itu pun memberi saran kepada lembaga hukum supaya melakukan pengawasan yang efektif sehingga tidak terjadinya penyelewengan dan penyimpangan.

“Kita ketahui banyak banget persoalan di Indonesia, nah hukumlah yang harus berperan aktif menyelesaikan kasus tersebut secara adil. Sebenarnya kalau menurut saya mungkin itu bukan kesalahan dari sistem hukum tersebut bisa jadi mungkin dari oknum penegak hukum yang ada penyelewengan atau penyimpangan,” tegasnya dalam video berdurasi 5 menit itu.

Dewi mengaku tidak menyangkal bahwa dirinya bisa meraih juara I saat pengumuman tiba, Kamis (1/01) di JCC Hall Cendrawasih. Dengan raut wajah yang mengaku kaget ia pun segera naik ke podium dan mendapatkan hadiah berupa piagam dan uang tunai.

“Aku cuman bikin vlog semampuku aja, soal menang atau tidaknya urusan belakangan, yang penting sudah terlibat. Sempet nggak nyangka karena pesertanya umum dan siapa saja bisa ikut. Mungkin karena rezeki kali ya.. alhamdulillah,” ujarnya seraya tersenyum.

Disinggung mengenai vlog, perempuan yang kini menjalani bisnis online shop itu mengaku belum pernah belajar tentang vlog sebelumnya. Saat membuat video tersebut, ia menggunakan aplikasi edit video biasa yang berasal dari handphonenya.

Sementara itu, berbeda dengan Fajar yang sudah memiliki passion menulis. Pria angkatan 2013 itu mengaku sempat menjadi kontributor diberbagai website essai maupun cerpen. “Awalnya juga dari grup, ada salah seorang teman yang ngeshare ada kompetisi essai yang diadain sama Qureta. Saat itu saya lagi sibuk skripsi tapi tetap ada keinginan untuk menulis,” katanya.

Hanya butuh waktu 3 hari bagi Fajar untuk menyelesaikan essai tersebut. Setelah membuat akun dan login ke website qureta.com., pria hobi membaca itu lantas mengirimkan tulisannya. Tak butuh waktu lama, ia mendapat konfirmasi email dari panitia bahwa masuk 10 besar. “Saya kaget bisa masuk 10 besar karena pesertanya sekitar 400 orang dan banyak dari peneliti juga dosen,” imbuhnya.

Dalam acara malam penganugerahan pemenang lomba esai pada Jumat, (9/03) di Hotel Amoz Cozy, Jakarta, panitia lomba tersebut memberi pengumuman bahwa Fajar lah yang berhasil meraih juara I melalui judul yang diangkatnya, ‘Persekusi dan Kohesi Sosial’. 

Berkat kemenangannya, pria yang pernah menyandang sebagai kolumnis website sepakbola itu mendapatkan hadiah berupa uang tunai dan sertifikat. “Bangga mahasiswa seperti saya bisa mengalahkan tulisan peneliti dan dosen yang sudah bergelar doktor. Ini semua berkat kegigihan dan keuletan untuk membaca dan menulis,” ungkapnya.

Fajar berharap para generasi jaman ‘now’ bisa membudidayakan membaca dan menulis, dan mempersepsikan bahwa membaca itu keren. “Jangan takut berkarya dan mempublish tulisan kita karena kita hidup di era internet,” tutupnya.

Prestasi yang berhasil menghantar Dewi dan Fajar membuktikan bahwa tidak hanya akademik, tetapi mahasiswa juga harus membangkitkan skill nya dalam bidang non akademik. Apa yang diraih oleh mereka  merupakan buah kegigihan dan kerja keras yang dilakukan demi terciptanya generasi penerus bangsa yang siap bersaing.(*NIS)