Dampak Perubahan Iklim Kepada Jemaah Haji Oleh Pusat Pengkajian Islam UNAS

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Iklim Kepada Jemaah Haji Oleh Pusat Pengkajian Islam UNAS

Jakarta (UNAS) – Pemanasan global menyebabkan jemaah haji di Mekah lebih beresiko karena berpotensi terpapar panas yang tinggi. Faktanya di Mekah suhu bola basah rata-rata naik hampir 2 derajat Celsius tahun 1984-2013 akibat perubahan iklim dan diprediksi akan terus meningkat.

Dalam ulasan yang diterbitkan oleh Pusat Pengkajian Islam Universitas Nasional (PPI UNAS) berjudul ”Dampak Kebijakan Iklim bagi Ibadah Haji” pada Kamis (7/7) menerangkan ancaman peningkatan suhu global dan cuaca ekstrem bisa berbahaya bagi Jemaah di Tanah Suci. Penurunan emisi global yang lebih cepat sangat penting untuk mengurangi risiko umat Muslim dalam melaksanakan ibadah haji.  ”Laporan ini memberikan gambaran penting bagi umat Islam untuk peduli dan bertindak terhadap perubahan iklim. Panas ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim akan membuat ibadah Haji, salah satu dari lima rukun Islam, lebih sulit dan lebih berbahaya bagi komunitas Islam,” kata Dr.Fachruddin M. Mangunjaya, Ketua PPI UNAS pada Kompas.id.

Dalam ulasan, Fachruddin juga menyebutkan suhu bola basah rata-rata di Mekkah telah naik hampir 2 derajat Celsius  akibat perubahan iklim. “ Selama periode tersebut, suhu bola basah yang mencapai 24,6 derajat Celcius atau lebih yang diklasifikasikan berbahaya oleh Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat sudah tercatat sebanyak 58 persen”, ungkapnya.

Pada ulasan PPI UNAS memberikan gambaran penting bagi umat Islam untuk peduli terhadap perubahan iklim. Panas ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim bisa membuat ibadah haji lebih sulit dan berbahaya bagi umat Islam, karena haji merupakan salah satu dari rukun Islam”, papar Fachruddin.

Suhu bola basah dalam kisaran 26-31 derajat celcius dikategorikan sangat berbahaya bahkan untuk orang-orang yang masih muda dan sehat (Vecellio, dkk 2022). Walaupun ambang batas ”bahaya ekstrem” 29,1 derajat celcius belum pernah terekam di Mekkah dalam jangka waktu 1984-2013, beberapa peristiwa kematian massal akibat berdesak-desakan selama ibadah haji diduga terkait dengan suhu bola basah yang tinggi.

Risiko jemaah haji terhadap paparan panas dinilai tinggi karena selama melaksanakan ibadah mereka menghabiskan 20-30 jam di luar ruangan dan sering kali sambil berjalan dalam rombongan besar. Selama bulan-bulan musim panas Arab Saudi yang terik, selalu ada jemaah haji yang terkena sengatan panas (heat stroke), dan perubahan iklim akan membuat panasnya jauh lebih berbahaya.

Ulasan yang berjudul “Impact of Climate Policies on the Haji” ditulis oleh Ketua PPI UNAS Dr.Fachruddin M. Mangunjaya, Sartika Nur Shalati, Mahawira Dillon dan Claire Wordley. (*TIN)

Berita Terbaru
Chat with Us!