Dai Konservasi Pontianak Kunjungi Pusat Penyelamatan Burung Berkicau

Bagikan Artikel

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Dai Konservasi Pontianak Kunjungi Pusat Penyelamatan Burung Berkicau

Jakarta (Unas) – Sebanyak 12 ustadz yang berprofesi sebagai dai di berbagai masjid di Kubu Raya dan Pontianak berkumpul di Pontianak, pada Minggu (21/08). Tujuan dari berkumpulnya para dai tersebut ialah dalam upaya kembali memberikan penajaman wawasan dan aksi yang dapat dilakukan oleh para dai di lapangan, serta memberi kesempatan berdialog bersama MUI setempat. Sebelumnya, para dai tersebut telah mengikuti kegiatan pelatihan konservasi dan implementasi Fatwa MUI tentang satwa yang dilindungi.

“Kegiatan ini merupakan refreshing, atau penyegaran kembali tentang materi-materi da’wah lingkungan hidup dan konservasi alam. Terutama dalam melindungi burung-burung yang ditangkap di alam, serta pemberian kesadaran publik tentang pentingnya keberadaan mereka di alam,” ujar Ketua Pusat Pengajian Islam (PPI) Universitas Nasional (Unas), Dr. Fachruddin Mangunjaya yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Zulkifli Abdillah dari MUI Pontianak juga menuturkan bahwa apa yang dilakukan oleh MUI dan para dai sebagai penyampai risalah hari ini merupakan hal yang tepat. “Saatnya kita memberikan nuansa baru, berda’wah bukan hanya kita mencegah perbuatan mungkar, misalnya minuman keras dan lain-lain. Tetapi merusak lingkungan adalah perbuatan yang mungkar,” ucapnya.

Ia menambahkan, dalam hal ini dai memiliki tugas menyampaikan serta menanggapi bahwa sesungguhnya dalam setiap Fatwa MUI pasti terdapat rekomendasi kepada masing-masing kalangan, baik pemerintah maupun pengusaha untuk melaksanakan nasihat agama yang telah dikeluarkan MUI tersebut.

Sementara itu, Ustadz Uswatun Hasanah dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimatan Barat membenarkan bahwa pendekatan agama merupakan cara yang sangat mudah dimengerti masyarakat. Dialog dapat dimulai di masjid, tempat berkumpul, majlis ta’lim dan sebagainya. “Kami sebetulnya sangat terbantu di lapangan dalam memberikan pemahaman ke masyarakat melalui pendekatan agama ini,” katanya.

Di sisi lain, salah seorang dai menambahkan bahwa mereka telah mendapatkan wawasan baru tentang perlindungan alam yang tadinya tidak dimengerti mengenai fungsi keberadaan binatang khususnya burung-burung yang berada di tengah kita. Para ustadz juga tetap konsisten melakukan da’wah dan penyampaian baik itu di komunitas masyarakat dan umat binaannya.

Selain berkumpul dan bertemu setengah hari, kegiatan ditutup dengan mengunjungi Pusat Penyelamatan Burung Berkicau (P2B2), di Kampung Wak Gatak, Kubu Raya,  yang didirikan oleh Yayasan Planet Indonesia, Kalimantan Barat. (PPI Unas/ NIS)

Berita Terbaru
Chat with Us!