Cegah Plagiarisme, LPPM Selenggarakan Pelatihan Turnitin

Jakarta (UNAS) – Plagiasme merupakan suatu permasalahan yang sangat dilarang dalam dunia akademik. Universitas Nasional (UNAS) sebagai salah satu perguruan tinggi ikut berperan aktif dalam mencegah  adanya plagiarisme. Oleh karena itu, UNAS melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan pelatihan aplikasi program turnitin bagi para dosen. Bertempat di Laboratorium Jaringan Komputer blok 4 lantai 4, kegiatan ini di ikuti lebih dari 30 orang dosen.

“Saat ini program similarisasi naskah sangat diperlukan dan wajib diketahui oleh setiap dosen maupun peneliti. Pelacakan similaritas naskah ini adalah untuk melihat adanya indikasi plagiasi dari suatu karya ilmiah,” ujar Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt., Rabu (19/12).

Dalam dunia akademik, lanjutnya, program turnitin sudah banyak diterapkan di perguruan tinggi Dunia maupun di Indonesia. Dengan program ini tingkat plagiasi dapat ditekan sehingga originalitas suatu dokumen dapat terjaga.

“UNAS baru pertama kali mengadakan pelatihan ini dengan harapan seluruh dosen dan mahasiswa mampu menggunakan program turnitin ini sehingga terbebas dari tindakan plagiasi,” ucap Erna yang juga Ketua LPPM.

Turnitin merupakan suatu program pendeteksi berbasis web yang dapat digunakan untuk melakukan pengecekan tingkat plagiasi suatu karya Ilmiah. Dalam uji keaslian tersebut, karya pembanding merupakan karya yang sudah di unggah di Internet.

Dalam pelatihan ini, para dosen mendapatkan materi tentang membuat akun di turnitin, masuk ke dalam suatu kelas, menambahkan kelas, mengupload karya ilmiah untuk melakukan pengecekan tingkat plagiasi, dan mengunggah  hasil pengecekan. 

Di akhir wawancaranya, Erna mengungkapkan bahwa setiap penulis harus mampu mengatur bahasa dan kata dalam karya ilmiah sesuai dengan pemahaman penulis. “Setiap ilmuan baik dosen maupun mahasiswa harus pandai berbahasa dan menulis sehingga pendapat yang sama bisa ditulis dengan untaian kata-kata yang berbeda atau lazim disebut parafrase,” imbuhnya.

Senada dengan Erna, Agent of Turnitin I Group/ Product Specialist Ririana mengatakan bahwa program turnitin ikut serta dalam mencegah plagiarisme di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kasus plagiarisme perlu mendapat perhatian yang lebih agar sebuah ide ataupun karya orang tidak di akuisisi.

Ia pun berharap dengan diterapkannya program turnitin dapat meningkatkan kualitas penulisan dosen maupun mahasiswa. “Diharapkan dengan dimanfaatkannya software turnitin ini maka karya tulis civitas akademika Universitas Nasional akan lebih berkualitas,” tutup Ririana. (*DMS)