Jakarta (UNAS) – Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Biromawa) Universitas Nasional (UNAS) bekerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) melalui Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) pada Jumat (22/8) di Aula Blok A Lantai 4, Kampus UNAS.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Keuangan, dan Sumber Daya Manusia UNAS, Prof. Dr. Suryono Efendi, S.E., M.B.A., M.M. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa diskusi ini tidak hanya menjadi wadah akademis, tetapi juga sarana strategis bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan. “Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Universitas Nasional dapat memperdalam pemahaman mengenai kepemimpinan presiden dalam perspektif keilmuan, sekaligus mengenal pentingnya pengelolaan arsip statis kepresidenan,” ujarnya.

Kepala Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan ANRI, Drs. Agus Santoso, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan bahwa ANRI memiliki mandat penting dalam menghimpun, melestarikan, dan membuka akses arsip statis kepresidenan. Menurutnya, arsip-arsip tersebut bukan hanya sumber otentik dalam penulisan sejarah, tetapi juga berfungsi sebagai memori kolektif bangsa yang penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebijakan publik.
Agus juga menekankan bahwa kajian mengenai kepemimpinan Presiden Soeharto merupakan fase krusial yang perlu dipahami secara objektif, mengingat relasi ekonomi dan politik pada masa itu membentuk struktur sosial, kebijakan pembangunan, hingga arah demokratisasi Indonesia. Ia berharap melalui FGD ini lahir perspektif baru yang berimbang dan berbasis data, sekaligus memperkaya literatur akademik tentang sejarah ekonomi-politik nasional.
FGD bertema “Presidential Leadership dan Personalized Government, dengan studi kasus: Relasi Bisnis dan Politik pada Era Presiden Soeharto” menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Prof. Syarif Hidayat, M.A., Ph.D., Guru Besar Ekonomi Politik UNAS; Ari Syah Bungsu, S.T., Arsiparis Ahli Madya ANRI; serta Satimin, S.A.P., Arsiparis Ahli Madya ANRI. Para narasumber membahas relasi bisnis dan politik sejak Orde Baru hingga reformasi, pentingnya riset berbasis arsip, serta peran Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan dalam kajian dan pelestarian informasi sejarah kepresidenan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa. Mereka aktif bertanya mengenai keterkaitan arsip statis kepresidenan dengan dinamika politik nasional, serta bagaimana arsip dapat menjadi sumber pengetahuan penting untuk memahami kepemimpinan presiden di Indonesia.
Kegiatan ini menegaskan peran penting perguruan tinggi dalam mempertemukan mahasiswa dengan sumber pengetahuan autentik melalui kolaborasi dengan lembaga negara. Ke depan, UNAS dan ANRI berkomitmen untuk terus mengembangkan kerja sama dalam bidang riset, publikasi, dan edukasi publik terkait sejarah kepresidenan serta pengelolaan arsip.
Sebagai informasi, Universitas Nasional (UNAS) merupakan salah satu perguruan tinggi swasta tertua di Indonesia yang telah meraih akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Pencapaian ini mencerminkan konsistensi UNAS dalam menjaga kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. (TIN)
Bagikan :


