Anis Matta Kenalkan Konsep ‘Gelombang Ketiga Sejarah (Demokrasi) Indonesia’ dalam National Lecture 2013

Institusi pendidikan, seperti kampus merupakan sarana paling tepat untuk pendewasaan politik masyarakat

Jakarta [UNAS] – Tidak hanya bertugas mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan, Universitas juga diberi amanah untuk mencetak generasi muda menjadi agen-agen perubahan bangsa atau agents of change. Fungsi penting dari institusi pendidikan inilah yang membuat politikus sekaligus Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta, Lc., menjadi pembicara pada National Lecture 2013 yang bertajuk “Gelombang Ketiga Sejarah (Demokrasi) Indonesia” di Universitas Nasional.

“Ada tiga lembaga yang berperan penting dalam pembangunan poltik masyarakat, yaitu partai politik, media, dan kampus. Ketiganya bergerak di bidang yang sama yaitu pemikiran. Kampus memikirkan ilmu pengetahuannya, media memikirkan kata-katanya, dan parpol memikirkan regulasinya. Dengan menghadirkan politisi ke kampus-kampus, kita berharap hal ini dapat mendewasakan politik masyarakat atau generasi akademisi,” papar Anis Matta dalam kegiatan yang diadakan di Ruang Seminar Blok 1 Lantai 3 Universitas Nasional, Kamis (19/11).

Dalam ulasannya, Anis Matta juga menjelaskan bahwa untuk negara sebesar dan serumit Indonesia, rasanya agak kurang tepat jika menggunakan pendekatan diagnostik untuk menganalisa suatu persoalan. Lebih cocok jika menggunakan pendekatan holistik, yaitu pendekatan yang cakupannya lebih luas dari pendekatan diagnostik. Pintu masuk pendekatan holistik ini adalah dengan menggunakan pendekatan sejarah. Dengan menggunakan pendekatan sejarah, kita akan mendapat gambaran yang lebih utuh tentang situasi dalam masyarakat dan akhirnya akan menemukan hasil yang lebih komprehensif.

Selain itu, Anis Mata juga memperkenalkan konsep “Gelombang Ketiga” yang merupakan lanjutan dari kedua konsep sebelumnya, yaitu Gelombang Menjadi Indonesia dan Gelombang Menjadi Bangsa Modern. Menurut beliau, kegaduhan yang terjadi dalam masa transisi menuju demokrasi ini diakibatkan oleh tidak menyeluruhnya pemahaman orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan akan fitur-fitur yang ada dalam demokrasi itu sendiri (pemilu, peranan perempuan dalam pemerintahan, dan lainnya) dan tidak adanya pembagian otoritas yang jelas antara pusat dan daerah.

“Yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia adalah seorang pemimpin yang mau dan bisa bekerja bersama rakyat. Tidak hanya memberi instruksi, tapi juga mengajarkan dan melaksanakan bersama rakyatnya,” pungkas Anis Matta sekaligus menutup kegiatan yang digelar oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPM) Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional tersebut.