Abizard Giffari, Setitik Harapan dalam Doa Sang Bunda

JAKARTA ( UNAS)  – Menjadi seorang diplomat ulung bahkan menjadi seorang duta besar Indonesia  khusus kaum disabilitas adalah cita – cita yang sangat ingin diraih oleh pria kelahiran Jakarta 14 November 1996 ini. Bernama lengkap Abizard Giffari Nasir putra sulung dari pasangan M. Nasir dan Rosliana ini dikenal sebagai anak yang mandiri dan pantang menyerah. Kegemarannya membaca buku dan mempelajari bahasa asing menjadikan ia sosok yang cerdas dan terampil dalam penguasaan bahasa asing diantaranya, Jepang, Prancis, Korea serta Jerman.

Hati orangtua mana yang tidak akan runtuh dan terenyuh kala menerima kenyataan bahwa putra tercinta harus mengalami musibah Ablasio Retina yang menyebabkan seseorang yang mengidapnya menjadi tidak bisa melihat seperti sediakala. Tepat diusia ke 15 sang putra tercinta divonis oleh dokter mengalami kebutaan permanen. Tak mau berlama – lama dirudung kesedihan ibunda lantas mendekap dan memeluk sang putra sambil berbisik

“ Jangan bersedih nak, kamu harus melanjutkan masa depanmu” ujar Rosliana lirih.

Bagai setetes embun ditengah gersangnya padang pasir, kalimat dan doa dari orang tua tercinta itulah yang nyatanya membangkitkan semangat pria yang kerap disapa Giffari ini untuk terus melanjutkan mimpinya menjadi seorang duta besar. Untuk beradaptasi dengan keadaan barunya, ia kerap dibantu oleh tiga saudari nya untuk mencoba mencari formula khusus guna memudahkannya dalam belajar.

Dilatar belakangi atas rasa keingintahuan yang besar akan dunia internasional. Ia lantas memutuskan untuk mencari informasi tentang beberapa Universitas yang membuka program studi Hubungan Internasional. Kerap merasakan pahitnya ditolak oleh beberapa Universitas, tidak menjadikannya  pribadi yang putus asa. Berbekal informasi dari teman semasa sekolah, Abizard lalu mendaftarkan diri di Universitas Nasional. Terhitung sejak 2017 ia resmi menjadi mahasiswa UNAS dari program studi Hubungan Internasional. Ia pun berharap dengan melanjutkan pendidikan di UNAS ia dapat memperoleh bekal IPTEK dan pengalaman yang mumpuni di bidang Hubungan Internasional.

“Saya ingin memajukan kondisi tunanetra Indonesia karena dulu tunanetra Indonesia mendapatkan pemasukan dari luar dan itu sudah terputus. Mungkin saya suatu saat nanti bisa melakukan hubungan bilateral dengan luar dan menjalin hubungan internasional dengan negara-negara lain di bidang disabilitas” ujar pria yang hobi bermain musik ini.

Kendati harus menggunakan tongkat, kondisi ini tak menghalanginya untuk berkuliah. Dengan berbekal laptop yang sudah didesain khusus ia pun optimis dapat mengikuti materi – materi yang diberikan dengan maksimal.

Diruang depan tampak sang bunda Rosliana dengan setia menunggu putranya yang sedang diwawancarai oleh tim humas UNAS. Dengan bangga sang ibupun berbisik, ‘’Abizard memang sosok yang mandiri dan percaya diri ditengah keterbatasannya,’’ ujar perempuan yang kerap disapa  Liana,  kepada Humas, Kamis ( 7/9).