Presbytis Melalophos – Primata Endemik Sumatra Yang Terancam

JAKARTA (UNAS) – Suaka Margasatwa Rimbang Baling yang berlokasi di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau memiliki keanekaragaman hayati yang menarik. Selain menjadi habitat Harimau Sumatera yang nyaris punah, SM Rimbang Baling juga menjadi rumah dari berbagai flora dan fauna endemik Sumatra.

Selama satu minggu berada di SM Rimbang Baling, para mahasiswa dan dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) pada 15 – 21 April 2016 menemukan berbagai jenis flora dan fauna yang menarik. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilakukan oleh Fabiona khususnya untuk mahasiswa semester 6. Mahasiswa dibagi berdasarkan bidang minat yaitu bidang primata, mamalia, burung, jamur, ekologi manusia, etno botani dan bioprospeksi.

Kelompok observasi bidang peminatan primata yang dipimpin oleh Dr. Suci Atmoko mengungkapkan ada cukup banyak jenis primata yang ditemukan di SM Rimbang Baling. Salah satu yang menarik adalah penemuan Presbytis melalophos (Mitred Leaf Monkey) atau yang dikenal masyarakat lokal dengan nama Nokah.

Nokah adalah salah satu monyet endemik pulau Sumatera. Primata dari famili Cercopithecidae yang kerap disebut Simpai atau Surili Sumatera itu termasuk primata langka dan terancam. Oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), hewan ini dimasukkan dalam daftar merah sebagai spesies Endangered (Terancam).

Subspesies yang dijumpai di SM Rimbang Baling adalah Presbytis melalophos bicolar. Moyet ini memiliki ciri-ciri bagian dahi memiliki pinggiran hitam dan mata yang dikelilingi oleh kulit abu-abu atau abu-abu kebiruan. Moncong hitam dengan dagu berwarna abu-abu. Mahkotanya memiliki garis hitam. Tubuh bagian dorsal (bagian punggung) berwarna coklat gelap sedang bagian ventral (bagian dalam) berwarna putih. Sedangkan warna ekornya hitam (bagian luar) dan putih (bagian dalam).

Ketika dijumpai, nokah terlihat berkelompok di pepohonan beringin (ficus drupacea) yang menjadi sumber makanannya. Selain monyet dewasa, terlihat juga monyet juvenile dan anak-anak yang digendong di perut induknya. Seperti halnya primata lain, kehadiran manusia membuatnya membunyikan alarm call, mengingatkan kelompoknya untuk berhati-hati.

Suci mengungkapkan melalophos memiliki variasi yang cukup banyak. Survei terkait primata ini terakhir kali dilakukan pada tahun 1980-an. ‘’Karenanya, sangat menarik untuk diteliti kembali khususnya di Rimbang Baling. Karena wilayah ini sangat luas, hingga ke perbatasan Sumatera Barat,’’ ungkapnya.

Selain nokah, tim primata juga menemukan Lutung (Trachypithecus cristatus) yang dalam bahasa lokalnya disebut cingku, Macaca fascicularis dalam bahasa lokal disebut cigak, Siamang (Symphalangus syndactilus), Ungko/ owa (Hylobates agilis) dan Beruk (Macaca nemestrina).

‘’Rimbang Baling memiliki kekayaan hayati primata yang relatif lengkap. Tempat ini penting sekali untuk dipertahankan dan dijaga ekosistemnya karena selain menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa, tempat ini juga menjadi sumber air bagi warga Riau dan juga sebagian warga Sumatera Barat,’’ ujar Uci. (*mth)

Foto: Dr. Tatang Mitra Setia, M.Si