FH UNAS Bahas Pemilukada Dalam Perspektif Pancasila

Jakarta [UNAS] – Pemilihan Kepala Daerah langsung beberapa waktu yang lalu sempat menuai kontroversi. Tapi nyatanya dalam pelaksanaannya berjalan cukup baik dan tertib. Walaupun begitu, pemilihan tidak langsung oleh DPR dan langsung oleh rakyat masih menjadi kontroversi.

Untuk itu Fakultas Hukum (FH) Universitas Nasional (UNAS) mengangkat tema ‘Pemilukada Dalam Perspektif Demokrasi Pancasila’ dalam Seminar Nasional pada hari Kamis, (19/5). Seminar ini mengundang narasumber secara berimbang diantaranya Maruarar Sirait, SIP (Anggota Komisi XI DPR-RI) Dr. Margarito Kamis dan Dr. La Ode Ida.

Dekan Fakultas Hukum Dr. Ismail Rumadan, S.Ag., M.H. mengungkapkan bahwa banyak cerita tentang carut marutnya pelaksanaan pilkada. Menurutnya hal ini disebabkan karena proses demokrasi yang berlangsung tidak berlandaskan pancasila. “Pancasila yang menjadi landasan demokrasi Indonesia harus dipahami. Semoga melalui seminar ini ada jawaban mengenai pilkada yang menjadi pertanyaan kita selama ini dan bisa kita tindak lanjuti secara konkrit,” ujarnya.

Margarito Kamis mengungkapkan bahwa dengan pemilihan langsung banyak ketidak adilan yang terjadi. Suara rakyat dengan mudah bisa dibeli oleh partai politik. Ia juga mengatakan bahwa sangat tidak masuk akal saat memilih kepala daerah justru menimbulkan situasi antagonis. “Masuk akalkah pemilihan yg merupakan cara kita untuk memilih jabatan malah melahirkan situasi antagonis. Persaingan suatu kelompok dengan kelompok lain. Kalau Demokrasi Pancasila itu jujur,” ujarnya.

Sedangkan Maruarar Sirait sebagai Anggota Komisi XI DPR-RI dan politisi PDI Perjuangan justru memilih memotivasi para mahasiswa untuk mewujudkan apa yang mereka perjuangkan saat ini. Walaupun begitu, ia mengungkapkan bahwa tokoh-tokoh saat ini perlu regenerasi, dan regenerasi tersebut berasal dari para mahasiswa.

Ia mengungkapkan secara garis besar tokoh-tokoh masyarakat secara garis besar ada dua. Pertama adalah tokoh intelektual dan kedua adalah tokoh agama. “Bangsa kita perlu tokoh yang berpengaruh seperti itu. Berawal dari kampus adik-adik akan merasakannya di masa mendatang,” ungkap Maruarar Sirait.

“Saya menghargai orang-orang yang memperjuangkan haknya, menghargai orang yang berdemo, orang yang berjuang diluar sistem. Tapi percayalah adik-adik berjuang dalam sistem seperti di DPR itu sebenarnya tidak kalah mudahnya,” lanjutnya.