Fakultas Sastra Ajak Mahasiswa Tiongkok Belajar Budaya Betawi

JAKARTA [UNAS] – Universitas Nasional (UNAS) kembali meningkatkan kerjasama dengan universitas asing. Kali ini kerjasama dilakukan dengan Guangxi University, China dengan mendatangkan para mahasiswa dari negeri Bambu China. Kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional guna meningkatkan mutu dan pemahaman para mahasiswa asing akan kebudayaan yang ada di Indonesia.

Mahasiswa dari UNAS dan Guangxi University berkunjung ke Setu Babakan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada hari Sabtu, (3/9). Kedatangan mereka bertujuan untuk mengenal dan memahami lebih jauh mengenai salah satu ragam budaya yang ada di Indonesia, yaitu budaya betawi. Perkampungan ini dianggap masih mempertahankan dan melestarikan budaya khas Betawi, seperti bangunan, dialek bahasa, seni tari, seni musik, dan seni drama.

Menurut Somadi Sosrohadi, Ketua Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Satra kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya belajar bahasa Indonesia. “Tujuan dari program ini adalah agar mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia untuk penutur bahasa asing tidak sekedar mempelajari bahasa indonesia di dalam kelas saja melainkan dengan mengunjungi langsung tempat – tempat atau objek wisata yang berkaitan dengan budaya. Melalui observasi langsung mereka dapat mengamati  tingkah laku, cara bergaul, cara tutur sapa, cara hidup dan cara berinteraksi antar sesama,” ungkap Somadi.

Pria kelahiran kelahiran Kebumen, 28 April 1965 ini mengungkapkan bahwa kedepan nya program – program seperti ini agar dapat terus di tingkatkan lagi dari berbagai aspek yang sudah ada. Dengan senang hati ia juga mengatakan jika program seperti ini mampu membuat hubungan antara dosen dan mahasiswa baik dalam negeri maupun asing menjadi saling mengenal satu sama lain sehingga memiliki kedekatan emosional yang lebih akrab.

Disana para mahasiswa mempelajari mengenai budaya, makanan khas dan upacara-upacara adat serta kebiasaan kebiasaan orang betawi pada umumnya. Mereka juga merasakan makanan khas betawi seperti kue cucur, kue cincin serta rebusan-rebusan jagung dan pisang. Materi ini disampaikan oleh Yahya Adi Saputra, seorang budayawan muda dari  Lembaga Kebudayaan Betawi ( LKB ).

Hal ini disampaikan oleh salah satu mahasiswa, yang mengaku senang mengikuti kegiatan ini. “Hari ini saya sangat senang, saya bisa melihat banyak hal tradisional betawi. Menurut saya ini sangat interesting (menarik),” ujar Cheng Yi Xue yang akrab disapa Rendy sebagai nama Indonesianya.

Sebanyak 26 (dua puluh enam) mahasiswa yang mengambil Jurusan Manajemen dan Sastra Indonesia ini juga mencoba membuat ondel-ondel mini dan memasak kerak telor. Baik ondel-ondel mini dan kerak telor yang mereka buat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. (*Dif)