Eksistensi Sosiologi Fisip Unas dalam Konferensi Nasional Sosiologi V

JAKARTA – Jurusan Sosiologi Universitas Nasional (UNAS) semakin menunjukkan eksistensinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan khusunya dalam bidang kajian studi sosiologi.

Dua dosen terbaik Unas terpilih untuk memaparkan makalahnya dalam Konferensi Nasional Sosiologi, adalah Adilita Pramanti,S.Sos,M.Si Dosen Sosiologi Unas dan juga merupakan founder lembaga-lembaga lingkungan Dan perhutanan sosial serta Dr.Sigit Rohadi selaku Ketua Prodi Magister Administrasi Publik Unas. Acara dari Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) ini telah selesai digelar di Hotel Bumi Minang Padang, pada 17-19 Mei 2016 beberapa waktu lalu.

Jurusan Sosiologi Universitas Andalas sebagai tuan rumah memberikan tema konferensi nasional sosiologi v “Gerakan Sosial dan Kebangkitan Bangsa” disertai Sub tema konferensi gerakan perempuan/gender, gerakan pendidikan, gerakan lingkungan, gerakan buruh, gerakan petani/nelayan, gerakan sosial dan media, gerakan pemuda, gerakan anti korupsi, gerakan anti kapitalisme/ globalisasi dan korporasi, gerakan hak azazi manusia, dan sub tema lainnya yang sejalan dengan topik konferensi.

Adilita adalah satu di antara regenerasi dosen sosiologi di FISIP Unas yang fokus pada pengembangan dan penelitian sosiologi lingkungan yang menjadi salah satu Topik gerakan sosial yang menitikberatkan pada relasi antara manusia sebagai pusat pengelolaan lingkungan. “Unas adalah satu-satunya kampus swasta di Jabodetabek yang memiliki program studi sosiologi. Keikutsertaan pada konferensi Sosiologi V merupakan salah satu upaya untuk memberi kan sumbangsih pemikiran Dan karya nyata sesuai dengan fokus kajian kita,” tutur Adilita yang juga alumi Universitas Andalas, Kamis (16/6/2016).

Adilita juga mewakili Program studi Sosiologi FISIP Unas dalam forum global landscape yang diselenggarakan di Paris Bulan desember 2015 lalu dengan mengusung tema gerakan Pengelolaan sampah perkotaan yang kemudian dipresentasikan pada konferensi Sosiologi V dengan melalui proses penelitian yang melibatkan juga mahasiswa Sosiologi Fisip Unas. “Self identity dan perilaku serta pengetahuan masyarakat menjadi hal utama yang merubah mutu lingkungan kita. Situasi sosial politik turut memberikan ruang perubahan lingkungan hidup Dan perilaku masyarakat.Tidak jarang banyak cara pengelolaan lingkungan yang masyarakat tdk kehendaki atau tdk pahami namun tetap dilaksanakan,” ujar Adilita.

Pemakalah lainnya, Sigit mengungkapkan kompetisi konferensi nasional cukup ketat dan tajam karena telah mengumpulkan para sosiolog dari berbagai universitas di Indonesia. Para pemakalah dinilai telah menujukkan kolegtifitas yang begitu kuat karena mempunyai konsen terhadap pengembangan sosiologi di tanah air. “Terlebih lagi melibatkan mahasiswa mulai dari S1 hingga S3 dari berbagai universitas sehingga menjadi ajang kaderisasi keilmuan di bidang sosiologi,” tuturnya. “Panitia memanjemen dgn baik, dan seleksi dengan baik. Bisa lolos di sana sangat bangga, apalagi Sosiologi Universitas Andalas kan sangat bagus juga,” lanjutnya.

Lebih lanjut, para sosiolog harus bisa membawa perubahan di negeri kita. Misalnya, arah sosiologi perubahan sosial politik juga harus benar konsen diperhatikan oleh para sosiolog di tanah air. “Sosiologi di Unas punya perhatian serta konsen di bidang gerakan sosial, kemudian pelatihan di bidang sosiologi politik. Karena itu pemakalah dosen tentang sosiologi lingkungan dan sosiologi politik,” kata pria yang menyelesaikan gelar doktor Jurusan Sosiologi di UNAIR itu.

Panitia Konfenrensi Nasional Sosiologi
Dr. Jendrius Makarim menilai, secara umum masing-masing peserta telah memaparkan makalahnya dengan sungguh baik karena menghadirkan keterbaruan informasi. Para pemateri mengangkat isu-isu lingkungan yang menjadi sorotan saat ini. Menurut Jendrius, tentang makalah Adilita yang menjelaskan tentang keterlibatan masyarakat dalam lingkungan dan polusi dalam dengan urgensi yang dianggap sangat relavan untuk diperbicangkan dalam arena konferensi sosiologi. Terlebih lagi, penggunaaan barang daur ulang, persoalan sampah rumah tangga, dan sampah industri.

“Secara umum hasilnya sangat bagus dan menarik,” kata Jendrius.

Ia mengatakan, APSSI merupakan kegiatan rutin dilakukan sebagai determinasi sosial dan penelitian baru di bidang sosiologi, metode, teori yang berkaitan dengan materi pengajaran disiplin ilmu tersebut. “Kami ingin mmeberikan layanan yang baik bagi peserta. Alhamdulillah semua memuji kesigapan panitia. Kami membangun kemitraan dan saling bantu antara para dosen untuk saling menguatkan,” kata Ketua Jurusan Sosiologi Fisip Universitas Andalas itu.

Sedangkan Ketua Program studi Sosiologi FISIP Unas, merespon baik keberhasilan para pemakalah yang mewakilkan Unas. Dijelaskan hal itu dijalanan sesuai dengan visi program studi sosiologi yang sudah seharusnya memberikan kontribusi besar terhadap ilmu pengetahuan. Menurutnya Unas sudah banyak perubahan-perubahan progres positif untuk pengembangan program studi sosiologi dan ilmu pengetahuan.

“Saya berharap semua dosen Sosiologi kedepan dapat ikut terlibat dalam ajang tersebut. Program studi sosiologi Unas bisa memberikan kontribusi pengajaran terhadap perkembangan sosial di Indonesia.

“Terlebih tentang kajian sosiologi perkotaan dan sosiologi pemberdayaan untuk bisa kami sumbangkan. Program studi sosiologi di Unas ini didukung oleh SDM serta dosen-dosen yang punya kapasitas,” tambahnya.

Selain itu, untuk menghadapi tantangan jurusan Sosiologi mengembangkan matakuliah mandiri untuk menarik minat para generasi muda. Sehingga menjadikan program studi sosiologi sebagai pusat unggulan dalam kajian sosiologi Industri sesuai dengan perkembangan, perubahan dan derap globalisasi.

Dekan Fisip Unas Dr.Truly mengaku bangga keterlibatan para akademisi Unas yang tampil dalam ajang konferensi sosiologi nasional V.

Menurutnya, seluruh dosen fisip kerap saling mendukung dan sudah membangun kerja sama dengan baik. Mereka saling bekerja keras di bidang pengajaran maupun penelitian. “Saya bangga. Saya berharap banyak dosen dari Unas yang bisa mengikuti kesempatan yang sama,” ungkap Truly.

Ia menjekaskan, dalam hal ini, sosiologi sebagai disiplin ilmu memang begitu penting sebagai menjadi dasar semua ilmu sosial. Sehingga, para ilmuan sosial pun mempunyai kewajiban mempertahankan dan mengembangkan induk dari ilmu tersebut. “Program studi sosiologi kami cukup kuat, SDM kami sangat baik. Kami mempunyai para doktor sosiologi dan peneliti yang fokus pada beberapa bidang kajian menarik dan bisa jadi andalan,” jelasnya.

Selain itu, kata Truly, pihaknya ingin segera mewacanakan jurusan sosiologi ke tingkat yang lebih tinggi dengan membuka kelas S2 hingga program S3 di kampus Unas. Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan bukan hanya dilihat dari kuantitas jumlah peminatan mahasiswa saja, tetapi menghasilkan lulusan yang berkualitas dari kampus yang berdiri sejak 1949 itu.Pihaknya akan mencanggihkan lagi baik dari sisi sistem manajemen maupun disiplin ilmu.(SR)

Sumber: merdekaonline.com