DISKUSI: ISLAM AND ENVIRONMENTAL ETHIC

JAKARTA  ( UNAS) – Pusat Pengajian Islam  ( PPI)  Pembangunan dan kebijakan lingkungan perlu mengusung  etika. Terjadinya degradasi lingkungan, pemupusan plasma nutfah, pencemaran, punahnya berbagai jenis satwa dan spesies, adalah akibat dari dilanggarnya etika lingkungan.

“Salah satu contohnya ketika terjadi penyeragaman penanaman bibit padi di awal pembangunan pertanian, karena mengikuti kebijakan orde baru yang menganjurkan bibit padi tertentu. Maka banyak pula padi-padi yang menjadi unggulan di daerah menjadi musnah dan tidak ditemukan ditanam lagi.” demikian Prof Endang Sukara, dalam diskusi ba’da Jum at di Pusat Pengajian Islam  (29/9). Endang Sukara adalah Dosen Pasca Sarjana Biologi dan Member Asian Bioethic Comission UNESCO, yang berbicara pada PPI di forum Pusat Pengajian Islam UNAS, Blok 108.

Menurutnya Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, juga memberikan petunjuk tentang bagaiman seharusnya menjalankan misi kehidupan yang beretika. Kehidupan beretika di landasi pada enam prinsip, yaitu: tauhid, ayat, khalifah, mizan, amanah, dan akuntabilitas.

Tauhid menjadikan hanya Allah saja sebagai Tuhan, dan ayat, adalah memperhatikan setiap unsur ciptaan dengan mengingat bahwa ciptaan tersebut merupakan amanah dari Tuhan, sehingga sebagai khalifah manusia diminta menjagana dengan amanah, manjaga keseimbangan dan  mempunyai akuntabilitas.

 ” Satu satunya nilai yang dapat kita usung untuk lingkungan adalah bangaimana kita bisa mempertahankan dan melindungi lingkungan itu dan selalu bersyukur atas keberadaan lingkungan yang baik tersebut,” ujarnya.

selengkapnya di http://ppi.unas.ac.id/diskusi-islam-and-environmental-ethic/