Bicara Tentang Primata, FSP FABIONA Jadi Narasumber di Jawa Pos TV

JAKARTA ( UNAS)  –  Kerusakan ekositem yang terjadi di bumi pertiwi Indonesia khususnya di wilayah hutan menyebabkan flora dan fauna yang berada didalamnya menjadi mati dan terancam punah. Terhitung sejak  tahun 2000 badan konservasi Internasional IUCN menerbitkan daftar 25 jenis primata yang paling terancam punah di dunia. Dari 25 jenis primata tersebut, 4 diantaranya adalah primata asal Indonesia yaitu Orangutan sumatera (Pongo abelii), Tarsius Siau (Tarsius tumpara), Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) dan Simakubo (Simias cocolor). Primata tersebut akan benar-benar punah dari alam jika tidak ada upaya nyata untuk menyelamatkannya.

Salah satu faktor utama semakin terancam punahnya primata Indonesia adalah perburuan dan perdagangan primata, karena sebagian besar primata yang diperdagangkan adalah hasil tangkapan dari alam. Setiap tahunnya ada ribuan primata dari berbagai jenis yang ditangkap dari alam untuk diperdagangkan sebagai satwa peliharaan atau juga dimakan dagingnya. 

Guna menjawab permasalahan tersebut baru – baru ini tepatnya Jumat ( 8/9) Fakultas Biologi UNAS ( FABIONA ) mendapat undangan untuk menghadiri acara talk show yang digagas oleh Jawa Pos TV.  Fakultas Biologi sendiri merupakan salah satu program studi yang aktif dalam melestarikan lingkungan. Salah satunya dengan membentuk beberapa club/ komunitas yang terdiri dari beberapa objek penelitian salah satunya adalah Lutung Forum Studi Primata ( FSP) yang berada di bawah naungan Badan Studi Otonom ( BSO) FABIONA UNAS.

FSP sendiri merupakan grup studi primata yang terdiri dari beberapa mahasiswa biologi yang tertarik untuk meneliti, menganalisa dan melestarikan primata. Dibentuk sejak tahun 2012 FSP telah mengadakan beberapa agenda rutin diantaranya, sosialisasi, kampanye ke beberapa sekolah serta tak lupa mengadakan pelatihan – pelatihan yang dibawakan oleh dosen dan juga peneliti dari UNAS.

Kevin Triandika, selaku Ketua Lutung FSP menuturkan bahwa Forum Studi Primata tidak hanya meneliti habibat Lutung saja melainkan beberapa primata lainnya seperti, Orang Utan, Kukang Jawa, Tarsius, serta Monyet Ekor Panjang. Untuk mendapatkan hasil yang optimal FSP  sampai pernah menyusuri hutan Kalimantan berbulan – bulan hanya untu mengamati habibat lutung dan surili.

“Selain kegiatan FSP kami juga pernah diundang ke Kalimantan oleh untuk melakukan  pengamatan biodiversitas di sana dari serangga (insect), mamalia (mammal), burung (ornit)” ujar alumnus biologi angkatan 2012 ini.

Ditanya perihal masalah terbesar punahnya primata di Indonesia, ia pun mengakui bahwa faktor ekonomi masih menempati urutan pertama yang menyebabkan punahnya hewan – hewan langka baik itu primata, unggas maupun satwa lainnya.

“ Perdagangan primata itu penuh dengan kekejaman. Kukang yang dijual banyak yang gigi taringnya dicabuti dengan kejam, agar kukang itu terkesan jinak dan lucu. Untuk mendapatkan anak atau bayi orangutan, seringkali pemburu akan membunuh dulu induk orangutan itu. Monyet dan lutung yang dijual itu sering mati karena stress akibat penangkapan” tutup Kevin.