Ahmad Baihaqi Kembali Boyong Penghargaan Melalui Karya Tulis Tingkat Nasional

JAKARTA – Ahmad Baihaqi, sosok pecinta keanekaragaman hayati Indonesia ini kembali mengukir prestasi melalui tulisannya. Tak disangka, pria kelahiran 23 tahun silam yang memenangkan lomba cerpen tingkat nasional bertajuk Harimau Sumatera beberapa waktu lalu, kini kembali mengharumkan namanya dengan menjuarai peringkat 3 lomba karya tulis semi ilmiah tingkat nasional dalam rangka kegiatan Jambore Capung Indonesia 2017, (11-12/8).

Bertemakan ‘Capung dan Lingkungan’, Pria yang sedang melaksanakan studinya di sekolah Pascasarjana program studi Magister Biologi Universitas Nasional dan Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI ini mengangkat judul ‘Capung-capung Ibu Kota’. Disinggung mengenai isi karya ilmiah tersebut, ia memabahas mengenai keberadaan capung di alam yang berperan sebagai indikator baik atau buruknya kualitas suatu perairan.

Pria yang akrab disapa Abay ini, menuturkan kondisi kota Jakarta yang memiliki Ruang Terbuka Hijau yang berperan sebagai penyuplai oksigen, sumber resapan air, dan habitat bagi capung. Ia juga menambahkan peranan capung sebagai pengendali alami hama serangga. Menurutnya, capung memerlukan kualitas air yang bagus dan tanaman air untuk meletakkan telurnya. Pada vase larva, capung memangsa jentik-jentik nyamuk sehingga nyamuk tersebut tidak mampu tumbuh dan kesehatan manusia terjaga dengan adanya keberadaan capung.

“Kondisi capung khususnya di Jakarta keberadaannya terancam. Hal itu dikarenakan semakin banyak perairan yang tercemar baik itu dari limbah rumah tangga maupun limbah industri. Perlu dilakukan penyuluhan bahwa kita sebagai manusia di bumi tidak hidup sendiri, tetapi ada makhluk hidup lain seperti capung, sehingga sangat penting hidup harmonis dengan alam,” ujar Abay.

Ketua umum Biological Science Club (BScC) tersebut menambahkan, konversi lahan juga menjadi salah satu ancaman untuk keberadaan capung di Jakarta. Sehingga penting untuk melakukan pembelajaran di bidang biologi khususnya bagi masyarakat agar dapat mengetahui pentingnya keberadaan capung di alam.

Dalam karya tulisnya, pembaca dapat mengetahui bahwa Jakarta dihuni oleh 28 jenis capung, walaupun Jakarta sendiri memiliki polusi yang cukup tinggi. Selain itu, pembaca juga dapat mengambil pelajaran mengenai peran capung di alam seperti sebagai bioindikator dan biokontrol.

“Saya berharap, semoga makin banyak masyarakat yang peduli dengan keberadaan keanekaragaman hayati Indonesia termasuk capung. Tidak hanya sekedar peduli tapi bergerak bersama menjadi aktor konservasi. Mari bergerak bersama mengenalkan dan melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia!” tutup Abay.

Pria pecinta fotografi tersebut memiliki segudang prestasi yang telah dilewatinya. Tak heran ia juga sering memenangkan lomba karya tulis ilmiah bertaraf nasional. Hal itu terbukti dengan beberapa buku terbitannya, diantaranya :

  1. “Burung-Burung di Ancol Taman Impian” (2015) pada saat bergabung di Biological Bird Club (BBC) Ardea Fakultas Biologi UNAS.
  2. “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibu Kota” (2015). Pada saat bergabung di Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI.
  3. “Serangga Terbang: Capung dan Kupu-Kupu di Kawasan PT. Indocement Tunggal Prakarsa tbk. Palimanan, Cirebon, Jawa Barat”(2016)
  4. “Herpetofauna Punggu Alas, Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah” (2016)
  5. “Tumbuhan Obat dan Satwa Liar: Keanekaragaman Hayati di Lingkungan Pondok Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat” (2017).
  6. “Upaya Green Hospital melalui Program Keanekaragaman Hayati di Lingkungan Rumah Sakit Kanker Dharmais” (2017).

Jambore Capung Indonesia merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri Yogyakarta (Biolaska) Water Forum, Indonesia Dragonfly Society (IDS) dan Capung Indonesia. Untuk mengikuti lomba ini, peserta diharuskan membayar registrasi lalu mengirimkan karya tulisnya kepada email panitia. Sebagai bentuk apresiasinya, Abay mendapatkan hadiah berupa piala, sertifikat, dan uang tunai.